
Oleh: Jalal
Ini adalah buku yang mustahil saya tuliskan resensinya dengan adil—sekeras apapun saya mencobanya. Ketika membaca The End of Nature di tahun 1992, tiga tahun setelah buku itu terbit, saya langsung merasa berhutang kepada Bill McKibben lantaran ia benar-benar membuka mata saya bahwa Bumi dan segala isinya sedang tidak baik-baik saja, dan membuat saya memantapkan hati untuk berada di gerakan keberlanjutan. Saya juga kagum luar biasa pada bagaimana cara ia menulis sehingga bisa memuaskan benak, menguatkan hati, dan menggerakkan tangan para pembacanya sekaligus. Buku-bukunya saya kumpulkan dan baca berulang kali, termasuk Enough (2003), Deep Economy (2007), Eaarth (2010), Oil and Honey (2013), dan Falter (2019). Setiap kali sempat, saya tuliskan resensinya, tapi selalu saja lebih mirip pengakuan kekaguman dibandingkan timbangan yang adil.
Apalagi, ketika beberapa bulan lampau saya mendapati buku terbaru McKibben diberi judul Here Comes the Sun. Saya tahu judul itu tepat dan cocok untuk menggambarkan isu yang ia tuliskan: peran penting pembangkit listrik tenaga surya di masa depan rendah karbon. Tetapi, bagi saya yang menggemari lagu-lagu The Beatles semenjak duduk di bangku SD, judul itu langsung menggamit benak. Ini benar-benar kombinasi ‘mematikan’. Penulis keberlanjutan favorit saya menggunakan judul lagu dari grup band favorit saya sepanjang masa. Jadi, walau saya mustahil adil, saya akan tetap menuliskan resensi berikut ini, supaya saya bisa ikut menguatkan pesannya, terutama kepada para aktivis keberlanjutan di Indonesia.
Urgensi Transisi Energi
Transisi energi adalah keharusan eksistensial karena krisis iklim jelas telah tiba, bukan lagi ancaman masa depan yang samar. Tahun 2024 menjadi tahun terpanas dalam 125.000 tahun terakhir, dan dalam beberapa hari kita sempat mencicipi suhu rerata yang melampaui batas kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius yang menjadi garis merah kesepakatan Paris. Kerusakan mendasar pada sistem fisik planet sudah terlihat, menandakan bahwa Bumi sedang memasuki kekacauan iklim yang menghebat. Para ilmuwan sudah lama mendesak pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar setengahnya sebelum tahun 2030 untuk tetap berada di jalur yang dapat bertahan dengan relatif nyaman. Penundaan hanya akan memastikan bencana yang tak terpulihkan, mengancam peradaban dengan kehancuran ekonomi dan trauma sosial akibat bencana yang datang silih berganti.
Dalam urgensi transisi tersebut, energi surya kini merupakan solusi yang tercepat, termurah, dan terukur untuk mengatasi krisis iklim, menjadikannya sebagai jalur realistis yang tersedia. Dalam beberapa tahun terakhir, biaya produksi energi surya (dan angin, sumber energi terbersih kedua) telah jatuh di bawah energi fosil, bahkan di negara-negara yang berjuang melawannya. Sifatnya yang menyebar dan melimpah di mana-mana, terutama di dekat khatulistiwa, menjanjikan geopolitik yang lebih terdesentralisasi dan adil, menantang dominasi industri bahan bakar fosil dan konsentrasi kekuasaan di segelintir negara penguasanya. Dengan kapasitas terpasang yang tumbuh secara eksponensial energi surya dan angin, bersama dengan penyimpanan baterai, jelas menawarkan kecepatan yang diperlukan untuk mencapai tenggat waktu iklim 2030.
Time to Push
McKibben memulai bukunya dengan narasi kontras yang tajam: di satu sisi, Bumi sedang mengalami tahun terpanas yang pernah tercatat (2024), namun di sisi lain, umat manusia berada di puncak transformasi energi yang mendalam. Ia menempatkan penggunaan api sebagai penentu sejarah manusia. Sejak Homo erectus menguasai api untuk memasak, yang mendukung evolusi otak, api telah menjadi inti peradaban. Revolusi Industri, yang dipicu oleh mesin uap yang ditingkatkan oleh James Watt pada abad ke-18, menggantikan tenaga otot dengan tenaga pembakaran bahan bakar fosil (batubara, minyak, dan gas), yang kemudian mendorong pertumbuhan ekonomi yang eksplosif di satu sisi, tetapi juga menciptakan ketidaksetaraan yang ekstrem di sisi lain.
Narasi kemudian beralih ke sejarah panjang upaya untuk memanfaatkan matahari. Dari penemuan efek fotovoltaik oleh Edmond Becquerel pada abad ke-19 hingga lahirnya sel fotovoltaik silikon praktis pertama oleh Bell Labs pada tahun 1954, potensi energi surya sudah diprediksi, meskipun teknologinya ketika itu masih kelewat mahal dan tidak efisien. Ini didukung oleh tenaga angin dan hidro, yang secara fundamental sebetulnya adalah bentuk lain dari energi matahari, melengkapi sistem energi terbarukan.
McKibben menjelaskan inti revolusi yang sedang terjadi adalah perpindahan dari sistem berbasis pembakaran yang efisiensinya hanya sekitar 30% ke sistem berbasis elektrik yang jauh lebih efisien. Adopsi teknologi seperti mobil listrik (EV), pompa kalor untuk pemanas dan pendingin, dan kompor induksi, semuanya akan menggunakan energi tiga hingga lima kali lebih efisien daripada padanan bahan bakar fosil mereka. Efisiensi ini begitu besar sehingga, menurut perkiraan, konversi total dunia ke energi terbarukan dapat mengurangi total permintaan energi global hingga 56%.
Momen terobosan—atau yang disebutnya Life on the S Curve—terjadi pada awal tahun 2020-an, ketika biaya energi terbarukan anjlok pada level yang mengejutkan semua orang. McKibben mencatat bahwa instalasi panel surya global mencapai satu gigawatt setiap 18 jam pada akhir 2024, sebuah laju pertumbuhan yang jauh melampaui prediksi lembaga-lembaga energi paling berpengaruh sekalipun. Tiongkok memimpin dalam hal ini, dengan separuh dari seluruh energi bersih global terpasang di sana, menjadikannya ‘negara-elektro’ pertama. Perkembangan baterai, dengan penurunan biaya penyimpanan litium-ion sebesar 97% dalam 30 tahun, adalah pelengkap penting yang memungkinkan penyimpanan energi intermiten.
Namun, tentu saja, kemajuan ini menghadapi hambatan besar dari industri bahan bakar fosil. Mereka terus menggeser taktik dari penyangkalan iklim ke penyangkalan solusi, lalu ke promosi skema mahal yang tidak efektif seperti penangkapan dan penyimpanan karbon, atau biomassa (pembakaran kayu hutan), yang tujuannya adalah memerpanjang model bisnis berbasis pembakaran. McKibben juga membongkar mitos ekonomi yang mengakar, yang berasal dari pandangan ekonom seperti William Nordhaus, yang menganggap transisi energi bersih itu mahal. Sebaliknya, McKibben mengutip analisis yang menunjukkan bahwa transisi cepat akan menghemat $26 triliun USD secara global dalam biaya bahan bakar kotor yang seharusnya dibayarkan terus-menerus, karena energi surya dan angin memiliki biaya marginal yang mendekati nol.
Menjelang akhir buku, McKibben membahas isu ketersediaan mineral dan penggunaan lahan, berargumen bahwa penambangan mineral untuk transisi energi mengandung bahaya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kerusakan yang berjangka panjang dari pembakaran bahan bakar fosil. Ia menekankan bahwa energi surya, yang paling melimpah di negara-negara miskin dekat khatulistiwa, menawarkan peluang besar untuk mengatasi ketidakadilan global dan melepaskan negara-negara pengimpor dari utang dan ketergantungan jangka panjang.
“Let’s Do This!”, bab terakhir bukunya, adalah ajakan untuk bertindak. McKibben menekankan bahwa kita sama sekali tidak kekurangan teknologi, melainkan kemauan politik dan moral. Ia menyoroti bagaimana gerakan masyarakat sipil dan aktivisme energi telah menjadi pendorong utama perubahan, mulai dari kebijakan energi hijau hingga gerakan Sun Day yang ia bantu organisasikan. Bagi McKibben, transisi energi bukan hanya tentang menyelamatkan Bumi, tetapi juga membangun kembali hubungan spiritual manusia dengan alam. Ia menyamakan projek energi surya dengan misi global seperti pendaratan di bulan, hanya saja kali ini “kita membawa bintang ke Bumi untuk membuatnya bekerja di sini.”
Buku ini diutup dengan keyakinan penuh harapan: bahwa pada saat dunia tampak terpecah, suram, bahkan gelap, namun umat manusia masih memiliki kesempatan terakhir untuk melompat ke arah terang—secara harfiah maupun moral. Mengingat momentum yang telah dimulai, McKibben mendesak agar dilakukan aktivisme kuat dan segera, melakukan mobilisasi untuk memastikan dunia mencapai target 2030. Tujuannya yang terakhir adalah untuk pembaruan spiritual—menggunakan Matahari, bintang terdekat dari Bumi, sebagai sumberdaya yang dapat memulihkan hubungan yang terputus antara manusia dengan alam, setelah berabad-abad didominasi oleh api.
Timbangan dan Relevansi untuk Indonesia
Kekuatan utama buku ini terletak pada pergeseran narasi yang meyakinkan dari pesimisme iklim McKibben sebelumnya menjadi optimisme yang tangguh, yang sepenuhnya didukung oleh data dan analisis ekonomi. Ia berhasil mengumpulkan data teknis dan ekonomi terbaru, secara definitif membuktikan bahwa transisi energi tidak hanya keharusan moral dan lingkungan, tetapi juga keniscayaan keputusan finansial terbaik, karena energi surya dan angin kini lebih murah daripada energi fosil. Metafora yang McKibben gunakan, seperti Costco of energy untuk perusahaan penghasil energi surya, dan menyebut Tiongkok sebagai Arab Saudi-nya Matahari, adalah alat yang ampuh dan berkesan untuk menyampaikan argumen ekonomi yang kompleks kepada audiens yang lebih luas.
Kemampuannya itu benar-benar menjadikan buku ini terasa sebagai gabungan optimal antara narasi ilmiah, historis, dan emosional dengan presisi jurnalisme dan semangat moral seorang aktivis—dan ini yang selalu membuat saya mengagumi buku-buku karyanya. McKibben menulis dengan gaya yang tajam sekaligus menginspirasi: setiap data ‘keras’ dikaitkan dengan kisah manusia, setiap inovasi teknologi dijadikan cermin bagi transformasi sosial. Ia berhasil mengubah energi surya dari isu teknis menjadi narasi peradaban—kisah manusia yang belajar berhenti membakar dunia yang dicintainya. Pendekatan historisnya memukau, menelusuri evolusi energi dari api purba hingga silikon modern dengan kejelasan konseptual dan keindahan bahasa yang jarang dijumpai dalam literatur iklim.
Secara argumentatif, kekuatannya ada pada kesederhanaan logika: energi surya dan angin kini adalah solusi paling murah dan cepat, maka penundaan hanyalah hasil dari korupsi politik dan kekuasaan ekonomi fosil. Ia menulis dengan kejujuran tanpa eufemisme, mengajukan kritik keras baik kepada pemerintah populis maupun perusahaan yang gemar melakukan greenwashing. Lalu, ia mengajukan hal-hal yang perlu dilakukan untuk benar-benar mewujudkan dominasi energi terbarukan. “Trust Bill McKibben to find light in the darkness―and oh what a light it is! This is the energizing vision and game-plan so many of us have been waiting for, and of course it comes from one of era’s most imaginative and trusted voices.” Begitu kata Naomi Klein mengomentari buku ini.
Wawasan geopolitiknya, yang menyoroti bagaimana energi terdesentralisasi dapat memecah konsentrasi kekuasaan otoriter yang terkait dengan bahan bakar fosil, serta potensi pembebasan dan pemerataan bagi negara-negara Global South, juga sangat mendalam dan memprovokasi pemikiran. Bagi saya, buku ini berfungsi sebagai cetak biru aktivisme dengan fokus yang jelas: percepat penyebaran teknologi ini, desak seluruh pemangku kepentingan untuk melawan kelambanan pasar.
Meskipun demikian, agar ‘tampak’ adil, saya juga masih menemukan adanya ruang perbaikan dalam cara McKibben menangani implikasi keadilan sosial dari transisi itu sendiri. Ia terkesan mengecilkan tingkat bahaya penambangan mineral yang diperlukan (misalnya, kobalt, litium) dengan membandingkannya secara langsung dengan kerusakan katastrofik bahan bakar fosil—yang memang mustahil disangkal. Argumen yang menyatakan bahwa kerusakan penambangan mineral lebih ringan daripada penambangan batubara dapat terasa prematur dan tidak sepenuhnya menghormati perspektif masyarakat adat yang kehilangan tanah, kedaulatan, dan mengalami trauma atas nama projek-projek energi bersih.
Selain itu, fokus McKibben pada Tiongkok sebagai eksportir teknologi surya yang dominan, sambil mengakui masalah rantai pasok global yang terpusat dan isu hak asasi manusia di Xinjiang, meninggalkan pertanyaan penting yang belum terjawab tentang bagaimana dunia dapat memastikan sumber energi yang bersih tidak diciptakan melalui praktik yang tidak etis dan bagaimana menghindari ketergantungan geopolitik baru.
Buku ini jelas memiliki relevansi yang krusial dan mendesak bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang terletak di sabuk khatulistiwa, Indonesia tidak hanya sangat rentan terhadap krisis iklim (kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem), tetapi juga memiliki potensi energi surya yang melimpah namun masih jauh dari pemanfaatan optimalnya. Meskipun Indonesia adalah eksportir batubara besar, kita masih mengimpor banyak bahan bakar fosil lainnya, menjebak perekonomian dalam biaya energi fosil yang fluktuatif.
Argumen McKibben bahwa energi surya adalah jalur termurah dan tercepat menuju kemandirian energi, sangatlah penting bagi Indonesia untuk memastikan bahwa transisi energi menjadi sumber pembangunan yang adil dan terjangkau, membebaskan masyarakat dari biaya bahan bakar kotor yang mencekik. Kecepatan adopsi energi bersih—seperti yang dicontohkan McKibben di berbagai negara seperti Pakistan—perlu menjadi prioritas nasional untuk menjamin masa depan yang stabil dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk yang berada di kepulauan dan tempat-tempat terpencil. Kalau itu berhasil diwujudkan, saya membayangkan senyum kita semua bakal secerah dan sehangat Mentari pagi.
–##–
Depok, 7 November 2025

