Oleh: Swary Utami Dewi
Isu energi tak pelak menjadi sangat penting di saat dunia sedang mengalami krisis iklim. Bersamaan dengan beberapa isu utama lain — seperti krisis pangan, krisis air, kemiskinan dan ketidakadilan — energi menjadi hal yang harus dicari solusinya supaya manusia dan seisi bumi bisa tetap bertahan hidup dengan layak. Di saat yang sama, isu energi ini menjadi unik karena ia berbeda dengan yang lain. Jika isu lain lebih merupakan akibat atau dampak dari krisis iklim, maka energi merupakan salah satu penyebab dominan dari semakin parahnya kerusakan yang sedang dihadapi bumi.
Ya, sebab-musababnya karena penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) berasal dari sektor energi, khususnya sisa-sisa pembakaran bahan bakar fosil (minyak dan batubara) yang dipergunakan untuk produksi listrik dan panas, serta bahan bakar transportasi. Sumber energi lain, yakni gas alam, juga mengandung banyak metana. Metana sendiri merupakan jenis GRK yang jauh lebih kuat dari karbon dioksida (CO2) dalam memerangkap panas di atmosfer, meskipun umurnya lebih pendek. Jadi energi yang masih banyak dipakai sekarang ibarat pisau bermata dua.
Akan halnya Indonesia, kita masih memiliki ketergantungan yang besar pada energi fosil (minyak bumi dan batubara) dan gas alam. Salah satu penyedia energi Tanah Air, khususnya minyak dan gas bumi, adalah Pertamina. Terkait hal ini, saya mengamati ada lalu-lalang tulisan tentang energi dan Pertamina yang disebarkan di beberapa grup WhatsApp (WA) oleh Bang Denny JA. Mendadak “minyak dan energi” ini ternyata karena Bang Denny diangkat menjadi Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen, di Pertamina Hulu Energi (PHE), salah satu anak perusahaan Pertamina. Anak perusahaan, yang dulunya bernama Perseroan Terbatas (PT) Aroma, ini bergerak dalam bidang pengelolaan usaha sektor hulu minyak dan gas bumi serta energi, yang diperuntukkan bagi dalam dan luar negeri.
Mengetahui hal ini saya berkomentar setengah bercanda, “Wah, Abang mendadak minyak, ni.” Sembari menambahkan bahwa berat tugasnya sebagai Komisaris di PHE, sebagai bagian dari Pertamina, karena beberapa hal yang selama ini menjadi catatan kompleksitas energi di dunia, termasuk Indonesia.
Pertama dan utama, seperti yang sudah dipahami banyak orang, PHE bersentuhan langsung dengan energi “pisau bermata dua” itu. PHE bersentuhan dengan minyak bumi dan gas alam, yang menyumbang besar pada krisis iklim dengan segala dampaknya. Jika selama ini “hulu'” telah mengatur produksi energi yang berbahaya bagi bumi, sanggupkah hulu itu menghasilkan energi ramah bumi? Dan ini tak bisa ditunda-tunda karena suhu bumi sudah terus memanas. Sebagai referensi, dalam pidatonya di Institut Peradaban hari ini, Presiden Indonesia ke-6, Soesilo Bambang Yudhoyono, kembali mengingatkan tentang perlunya segera transisi energi sebagai salah satu cara mengatasi krisis iklim yang makin memburuk.
Kedua, energi selalu dan akan selalu menjadi hajat hidup orang banyak. Selain tantangan untuk segera mengalihkan energi ke energi ramah bumi tanpa kompromi, pihak-pihak yang punya kewajiban mengelola energi harus selalu bisa memastikan bahwa energi ramah bumi itu bisa terakses dan tersedia bagi semua, termasuk bagi mereka yang berada dalam kondisi sosial ekonomi yang tidak menguntungkan. Saya teringat beberapa saat lalu, ada keriuhan hilangnya elpiji melon “hanya karena” cara pengaturan yang tidak pas sehingga puluhan juta orang yang menggantungkan diri pada energi itu panik.
Dalam hal ini, pertanyaan yang muncul adalah inovasi seperti apa yang bisa dilakukan oleh otoritas di hulu energi untuk bisa memastikan bahwa energi yang disediakan, selain ramah, adalah bisa selalu mudah diakses dan murah bagi semua? Apakah nanti akan ada tindakan afirmatif untuk memastikan bahwa hak energi sehat dan murah bagi kaum marginal bisa selalu ada? Sekali lagi dan perlu selalu diingat bahwa energi bersih ini harus selalu menjadi energi yang juga ramah secara sosial.
Ketiga, terkait isu ketahanan bahkan kemandirian energi yang ramah bumi dan ramah sosial. Krisis energi berbasis fosil sedang terjadi di dunia. Ini sesuatu yang tak bisa dibantah. Beberapa negara yang makin menyadari pentingnya mengembangkan energi baru dan terbarukan, seperti Cina, sudah banyak menggunakan energi yang dihasilkan dari kincir angin dan sebagainya.
Kita tahu bahwa Indonesia memiliki potensi energi yang sangat besar dan gratis serta tak ada habis-habisnya. Angin, panas matahari, ombak serta aliran sungai deras adalah potensi-potensi yang sampai sekarang belum digunakan secara optimal. Keunggulan geografis Indonesia di khatulistiwa dan rupa bumi kita yang menghadiahkan pantai, sungai, dan sebagainya adalah sumber energi yang entah mengapa, sampai kini masih belum terkelola dengan baik. Semua ini sebenarnya merupakan potensi kekuatan untuk memastikan Indonesia bisa selalu memiliki ketahanan dan kemandirian energi, yakni energi yang ramah bumi dan ramah sosial
Dengan beberapa catatan di atas, sudah waktunya segera ada kebijakan dan aksi nyata bagi otoritas penghasil dan pengelola energi, termasuk Pertamina Hulu Energi, untuk memastikan kehadiran energi ramah bumi dan sosial, yang bisa berujung pada ketahanan dan kemandirian energi Indonesia.
30 Juli 2025
Leave A Comment