Secara keseluruhan, bauran energi terbarukan dalam produksi listrik dunia memang baru mencapai 29%-gigawatt jam (GWh) pada tahun 2022 dan 29,9% GWh pada 2023. Namun, peralihan ke 100% penggunaan energi baru dan terbarukan bukan hal yang mustahil. Beberapa negara sudah mewujudkan bauran energi terbarukan dalam produksi listrik di atas 90% GWh.
Batas 90% GWh digunakan untuk menunjukkan dominasi pemanfaatan energi baru dan terbarukan, walau banyak negara juga sudah melampaui batas 50% GWh bauran energi terbarukan dalam produksi listrik. Diambil dari data IRENA yang diluncurkan baru-baru ini, data negara yang baurannya sudah melampaui 90% GWh akan kami bagikan dalam analisis per wilayah berikut ini.
Untuk wilayah Afrika, dari 56 negara Afrika yang masuk ada dalam daftar IRENA, sebanyak 9 negara sudah melampaui bauran energi terbarukan dalam produksi listrik di atas 90% di 2023. Kesembilan negara tersebut adalah: Burundi (95,6%), Republik Afrika Tengah (97,5%), Republik Demokrasi Kongo (99,9%), Eswatini (99%), Ethiopia (100%), Guinea (90,6%), Lesotho (99,8%), Namibia (90,4%) dan Uganda (99,7%).
Untuk wilayah Asia, dari 31 negara yang masuk dalam daftar IRENA, sebanyak 3 negara memiliki bauran energi terbarukan terhadap produksi listrik di atas 90% GWh. Negara-negara tersebut adalah Bhutan (100%), Nepal (100%) dan Tajikistan (94,2%).
Di wilayah Amerika Tengah dan Karibia, Kostarika menjadi satu-satunya negara dengan bauran energi terbarukan dalam produksi listrik yang mencapai di atas 90% GWh yaitu 95%. Sementara tidak ada negara di wilayah Eurasia yang memiliki prestasi yang sama.
Untuk wilayah Eropa, hanya ada empat negara dengan bauran energi terbarukan dalam produksi listrik di atas 90% GWh di 2023. Negara tersebut adalah Albania (100%), Andora (91,3%), Islandia (100%) dan Norwegia (97,7%). Negara-negara maju lain seperti Inggris baurannya hanya mencapai 46,3%, Denmark (86,6%), Swiss (59,9%), Swedia (69,4%), Perancis (26,6%), Belanda (46,8%), Jerman (52,8%), Portugal (70%) dan Spanyol (50,3%). Sementara itu secara kesatuan, bauran energi terbarukan Uni Eropa dalam produksi listrik mencapai 44,3%.
Seperti yang bisa kita tebak sebelumnya, ada sejumlah wilayah di mana bauran energi terbarukan terhadap produksi listrik yang minim. Di Timur Tengah, Palestina menjadi negara dengan bauran energi terbarukan terhadap produksi Listrik tertinggi, mencapai 34% GWh di 2023. Negara lain seperti Saudi Arabia baurannya hanya mencapai 1,5% GWh, Yordania (24,7%), Iran (3,9%), Uni Emirat Arab (8,7%) dan Yaman (20%).
Kondisi ini hampir sama dengan negara-negara di wilayah Amerika Utara dan Oseania. Negara adidaya, Amerika Serikat, bauran energi terbarukan terhadap produksi listriknya hanya mencapai 21,6% GWh. Sementara bauran energi terbarukan terhadap produksi listrik Kanada mencapai 66,2%, Meksiko (18,5%) dan Greenland (76,9%). Hanya ada dua negara di Oseania yang memiliki bauran energi terbarukan yang menonjol yaitu Tokelau (94,2%) dan Selandia Baru (87,6%). Lainnya masih di bawah 50% dan banyak yang masih di bawah 10%.
Di wilayah terakhir yaitu Amerika Selatan, Paraguay menjadi satu-satunya negara dengan bauran energi terbarukan mencapai 100%, diikuti oleh Georgia Selatan dengan bauran EBT sebesar 99%, Uruguay (91,5%) dan Brasil (89%).
Seperti disampaikan oleh IRENA, energi baru dan terbarukan memberikan peluang bisnis dan keamanan energi dengan cepat dan berkelanjutan. Peluang ini harus segera ditangkap tidak hanya oleh Indonesia namun juga seluruh negara di dunia.
Tidak hanya berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca dalam aksi mitigasi perubahan iklim, penggunaan energi terbarukan juga akan berperan dalam aksi adaptasi, dengan meningkatkan efisiensi, menghemat biaya serta meningkatkan ketahanan dan kesehatan masyarakat dalam menghadapi krisis iklim.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment