Oleh: Jalal
Datangnya Musim Panas di belahan Bumi sebelah utara biasanya ditandai dengan pesta pora para penggemar film di seluruh dunia. Selain mendekati liburan Natal dan Tahun Baru, memang itulah musim film-film besar dan bagus bermunculan setiap minggunya di bioskop-bioskop. Sebagai penggila film sejak kecil, saya termasuk yang selalu menyambut dengan sukacita.
Jadi, ketika tahun 2020 dunia mengalami wabah COVID-19 yang membuat produksi film terhenti dan bioskop-bioskop tutup, saya benar-benar terpukul. Hobi menonton di bioskop musti ditanggalkan selama lebih dari satu tahun. Tak ada film besar yang bisa ditonton hingga tahun 2021 berakhir, dengan kekecualian No Time to Die, pemungkas James Bond era Daniel Craig. Ketika akhirnya bioskop buka, film-film yang diputar juga tak banyak, dan tak banyak yang benar-benar menarik. Saya menonton film itu di Surabaya, jam pertama di hari pertama, bersama 2 orang lain yang duduk jauh sekali dari saya.
Film-film menarik yang jumlahnya kelewat sedikit itu beberapa di antaranya hanya bisa saya saksikan di layar televisi. Betapapun saya menginginkan melihat West Side Story besutan Steven Spielberg di layar raksasa biskop, saya belum memiliki keberanian untuk sering-sering bercampur dengan banyak orang di dalam studio. Jadilah saya menunggu kemunculannya di layanan streaming, dan berpuas diri dengan layar televisi saya yang ukuran dan kualitas gambarnya terbilang lumayan saja.
Menyeberang ke 2022, kita lihat film menjadi lebih banyak. Bioskop juga sudah semakin banyak yang buka, dengan penerapan protokol kesehatan yang ditegakkan dengan serius. Jadilah film terbesar di pertengahan tahun itu, Top Gun: Maverick, bisa saya saksikan di bioskop. Demikian juga Glass Onion, Matilda the Musical, dan The Woman King. Tetapi, pengalaman yang mustahil dilupakan di penghujung tahun itu adalah menyaksikan Avatar: The Way of Water. Seluruh detail karya James Cameron bisa disaksikan keindahannya secara optimal di teater IMAX.
Kini, di pertengahan 2023, agaknya industri film telah kembali pulih, demikian juga bioskop dan para penontonnya. Dengan melihat film-film yang nongol sejak Mei lalu, saya merasakan gairah perfilman yang mungkin sudah kembali ke kondisi pra-wabah. Sayapun berusaha tak melewati kesempatan untuk menonton film-film menarik yang tayang. Seperti kebiasaan sejak dulu, saya menyaksikannya di hari kerja, di jam pertunjukan pertama atau kedua, sehingga tak perlu berdesakan dengan para penonton.
Awal Mei lalu, saya menyaksikan Guardians of the Galaxy Vol. 3, yang luar biasa bagus (Skor Rotten Tomatoes-nya 82 menurut kritikus, dan 94 menurut penonton awam). Cerita yang berpusat pada sejarah dan peristiwa kontemporer terkait tokoh Rocket itu benar-benar seimbang dalam adonan tawa-haru-kagum. Sungguh sebuah akhir yang sempurna—kalau keputusan mengakhiri seri ini tak diralat—buat gerombolan ini.
Minggu berikutnya, giliran Dominic Torreto dan ‘keluarga’-nya yang tampil di layar bioskop. Fast X, demikian film ke-10 dari seri Fast and Furious ini diberi judul. Para kritikus memberi ponten 57, tapi penggemarnya memberi nilai 85. Film bertabur bintang ini masih akan kita saksikan minimal 2 kali lagi—agaknya bias pas jadi selusin—dengan penjahat eksentrik Dante Reyes yang dimainkan oleh Jason Momoa.
Setelah melanglang langit, lalu menyusuri jalan dengan ngebut, giliran berikutnya adalah film yang sebagian besarnya ada di dalam laut, The Little Mermaid. Film Disney yang saya saksikan dengan antusias ini membelah penonton yang terkejut lantaran pemeran Ariel jatuh ke Halle Bailey yang berkulit gelap. Saya sendiri sudah tertambat hati sejak mendengar bagaimana Bailey menginterpretasikan Part of Your World, lagu terpenting di film itu. Para penontonnya sendiri puas luar biasa. Jadi, walau para kritikus cuma memberi nilai 66, kesepakatan mereka adalah 94.
Mengayun ke bulan Juni, kita menyaksikan film animasi super-keren, Spider-Man: Across the Spider-Verse. Para penonton menyaksikan bagaimana Spider-Man ternyata ada di banyak multiverse, dan kita menyaksikan dari sudut pandang Miles Morales. Kali ini tak ada yang memersoalkan Morales sebagai pahlawan super campuran kulit hitam dan coklat. Cerita dan gambar spektakular itu diganjar 96 oleh kritikus, dan penonton memberi 94, sedikit lebih ‘kritis’ dibandingkan kritikus.
Pembelahan penilaian terbesar di antara kritikus dan penonton terjadi pada film yang diputar berikutnya, Transformers: Rise of the Beasts. Para kritikus menghajarnya, dan hanya memberi nilai 53, tetapi para penonton yang ternganga menyaksikan keseruan pertempuran hasil CGI itu memberi ponten 91. Ceritanya bolong di sana-sini, dialognya banyak yang pandir, tapi koreografi laganya memang jempolan.
Hollywood belum selesai dengan urusan multiverse. Tak mau kalah dari para pahlawan Marvel, The Flash yang asli DC juga berlari kencang menantang waktu. Walau sudah diperingatkan Bruce Wayne alias Batman yang diperankan oleh Ben Affleck, Barry Allen tetap ingin mengubah bencana masa lalunya. Maka, seperti yang bisa diduga, kumpulan bencana di waktu dan dimensi yang berbeda lah yang dia panen. Angka 64 dari kritikus tidak menyurutkan apresiasi penonton yang menyukai kecanggihan gambar, humor, cerita, dan kemunculan beragam Batman di film ini. Pantaslah penonton bersepakat di 83, walau saya ingin memberi nilai lebih tinggi lagi.
Animasi kedua datang dari kolaborasi Disney dan Pixar, lewat Elemental. Para kritikus memberi nilai 74, nilai yang memuaskan, tapi jauh di bawah Spider-Man. Tetapi, pononton mengganjar film ini dengan 93, yang hanya terpaut satu nilai saja dibandingkan penonton Spider-Man. Film antropomorfisme ini sangat menarik idenya, juga sulih suaranya benar-benar pas. Soal gambar, tak ada yang pernah meragukan Pixar lah.
Indiana Jones and the Dial of Destiny adalah film kelima tentang arkeolog jagoan, Dr. Henry ‘Indiana’ Jones. Saya menyaksikan film pertamanya, yang nongol di tahun 1981, mungkin sekitar 3 tahun kemudian, dan menjadikan film itu sebagai salah satu film favorit saya sepanjang masa. Ketika film ini dinyatakan akan dibuat, jelas saya sangat senang, dan menanti dengan sangat petualangan terakhir Indy ini. Menurut saya para kritikus yang memberi nilai 68 agak kelewat kejam, dan saya berada di sisi penonton yang memberi nilai 88, kalau bukan malah seharusnya ada di kepala 9 kecil.
Film mutakhir yang saya tonton adalah Mission Impossible: Dead Reckoning Part One. Ethan Hunt kembali lagi berjumpalitan di tempat-tempat paling eksotik di dunia di instalasi ketujuh seri ini. Ini jelas film laga yang masuk kategori ‘gila’, dan upaya Tom Cruise dan seluruh yang terlibat di pembuatan film ini diapresiasi oleh kritikus dengan 96, dan penonton menilainya 94—persis seperti film animasi Spider-Man. Saya tak menemukan cacat apapun di film ini, walau berharap bisa lebih jenaka. Saya rindu kemunculan tokoh macam Brij Nath dari Mission Impossible: Ghost Protocol.
Minggu ini, sutradara brilian Christopher Nolan bakal menyuguhi kita lewat Oppenheimer, film sejarah bom atom dan para pembuatnya. Gelegar bom atom Nolan di satu teater bakal disandingkan dengan karya Greta Gerwig, Barbie, yang adalah film kritik sosial, bukan sekadar soal boneka cantik. Keduanya dihujani pujian awal yang seabreg dari para kritikus yang sudah menontonnya. Dan saya siap dibuat terpana di dalam bioskop lagi oleh keduanya.
Jadi, apakah Hollywood telah benar-benar bangkit setelah beberapa tahun dihajar oleh virus zoonotik COVID-19? Agaknya demikian, kalau melihat jejeran film dan antusiasme penonton. Tapi saya juga tahu bahwa hubungan antara studio dengan para penulis cerita sedang tidak baik-baik saja. Mereka sedang protes pada pendapatan yang tak kunjung membaik dan sangat timpang dibandingkan para bintang—juga eksekutif puncak studio-studio pembuat film. Dan para bintang juga telah menunjukkan solidaritas, meminta studio lebih adil kepada mereka yang seluruh awak yang terlibat dalam pembuatan film. Konon, mereka yang berdemonstrasi ini bakal membuat film-film mandeg dibikin setidaknya hingga akhir tahun.
Ketidakadilan, termasuk ketimpangan pendapatan yang ekstrem, adalah hal buruk di semua bisnis. Saya berharap Hollywood bisa menyelesaikan persoalan ini dengan baik, sehingga film-film bagus bisa terus dibuat, dan hasilnya bisa menyejahterakan semua yang terlibat di dalam industri hiburan penting ini.
Depok, 17 Juli 2023
Leave A Comment