Oleh: Suharni, Eka Wulandari, Ni Luh Peby Widyastuty, Herman, dan Edi Harti *
Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW) sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) memiliki beberapa tugas dan tanggung jawab, salah satunya untuk meningkatkan populasi penyu di habitatnya. Dua dari tujuh jenis penyu di dunia dapat ditemukan di Taman Nasional Wakatobi (TNW) yaitu jenis penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata).
Proses penetasan secara alami dalam sarang merupakan kondisi terbaik untuk penetasan telur penyu. Namun karena sulitnya pengawasan, ancaman predator, serta pengaruh air laut maka perlu dilakukan upaya pemindahan telur penyu ke sarang semi alami sebagai upaya peningkatan potensi jumlah telur menetas.
Upaya konservasi dan peningkatan populasi penyu di TNW dilaksanakan melalui kegiatan perlindungan berupa patroli kawasan, penyuluhan, serta monitoring dan pengelolaan demplot penetasan semi alami.
Penetasan penyu semi alami merupakan suatu metode yang dilakukan untuk menetaskan telur penyu dalam rangka menjaga keberlangsungan populasi. Metode ini dilakukan dengan cara memindahkan telur penyu yang ditemukan di sarang alami ke demplot semi alami yang telah disediakan, dengan perlakuan dan kondisi yang sama (kedalaman sarang dan posisi telur) ketika telur ditemukan di habitat alaminya.
Pada saat dipindahkan ke demplot, posisi kedalaman galian serta tata letak dan urutan telur penyu harus sesuai dengan posisi ketika ditemukan di habitatnya. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga sifat alami sarang penyu tersebut.
Metode penetasan semi alami memiliki tingkat keberhasilan hingga 80%. Penetasan penyu semi alami ini dilakukan oleh TNW, yakni di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Tomia-Binongko. Di beberapa tempat juga ditemukan metode serupa namun dengan jenis penyu yang berbeda.
Durasi atau periode penetasan telur penyu pada demplot semi alami di TNW, biasanya berkisar antara 50 sampai 60 hari. Panjang atau pendeknya durasi dalam penetasan telur penyu ini di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, cuaca, dan pH pada pasir yang di gunakan untuk media penetasan. Suhu yang ideal untuk penetasan telur penyu adalah 32 o -34o Celcius, sedangkan pH atau tingkat kesaman pada pasir yang ideal di gunakan untuk penetasan telur penyu adalah 3,80 o – 3,97 o Celcius.
Dengan adanya demplot penetasan semi alami di Taman Nasional Wakatobi, maka peluang penyelematan dan jumlah populasi penyu yang dilepasliarkan semakin meningkat. Data tahun 2021 misalnya, jumlah sarang yang dipindahkan ke demplot penetasan semi alami sebanyak 13 sarang dengan jumlah telur yang berhasil diamankan sebanyak 1.078 butir. Sejak dibangunnya demplot penetasan semi alami pada bulan Mei 2011 hingga akhir bulan Desember tahun 2021 telah berhasil dilepasliarkan sebanyak 4.941 (Empat Ribu Sembilan Ratus Empat Puluh Satu) ekor, dengan rincian 4.460 ekor jenis penyu hijau dan 481 ekor jenis penyu sisik.
–##–
* Artikel ini ditulis bersama oleh:
- Suharni (Fungsional Umum BKSDA Sultra)
- Eka Wulandari (PEH BTNW)
- Ni Luh Peby Widyastuty (POLHUT BTNW)
- Herman (SIGAP officer YKAN)
- Edi Harti (Fasiltator YKAN)
Leave A Comment