Oleh: Tim VGT *

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, warga Dusun Magirejo selalu dibayang-bayangi wasa cemas terhadap tanah longsor setiap musim hujan dan harus mengeluarkan dana dan waktu untuk mengatasi kerusakan akibat tanah longsor.

Dusun Magirejo terletak diantara lereng-lereng curam dan berbukit, pemukiman penduduk berjajar rapat dan berundak-undak memenuhi lereng. Dusun yang berada di Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul ini kerap diterjang tanah longsor ketika musim penghujan tiba.

“Telah terjadi 9 kali longsor dalam kurun waktu 4 tahun terakhir,” terang perangkat desa setempat. Tanah longsor telah memblokade jalan-jalan utama dan merobohkan beberapa rumah warga. Meskipun demikian, belum terdapat upaya secara intensif terkait mitigasi baik dari penduduk setempat maupun perangkat pemerintah bersangkutan.

Oleh karena itu, beberapa mahasiswa UGM merancang ide yang merupakan buah diskusi antar tim dan masyarakat melalui program Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) dengan hibah pendanaan tahun 2021 dari Kemenristekdikti yakni Vetiver Grass Tech, program penanaman Vetiveria zizanioides di Dusun Magirejo di daerah rawan longsor.

Tim berasal dari Fakultas Kehutanan UGM yang terdiri dari Khansa Hanun Afifah, Andrean Ardhitya Firnadi, Khairuddin Iqbal Suparta, Lu’lu-u Azizah Akma, dan Meitikasari.

Rumput Vetiver atau yang biasa disebut Akar Wangi, Sereh Wangi, dan Loro Setu memiliki keistimewaan di bagian akar, umumnya untuk diekstrak minyak atsirinya dan dimanfaatkan akarnya secara langsung untuk kerajinan tangan. Namun di balik itu, rumput Vetiver memiliki akar serabut yang masuk sangat jauh ke dalam tanah sehingga mampu menjadi tool untuk konservasi tanah dan air, termasuk dalam kasus ini adalah meminimalkan terjadinya erosi dan tanah longsor.

Dibimbing oleh dosen Ratih Madya Septiana, S.Hut., M.Sc. kegiatan ini dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan sejak Juni – Agustus melalui tiga skema yaitu kegiatan sosialisasi dilaksanakan secara daring dan bauran (daring & luring), kegiatan penanaman dilakukan secara luring terbatas dengan prokes ketat karena masih dalam masa pandemi Covid-19, dan koordinasi dengan mitra dilaksanakan secara daring.

Penggunaan rumput vetiver merupakan salah satu bentuk konservasi tanah dan air dengan pendekatan bioengineering metode vegetatif. Akar vetiver memiliki sistem perakaran unik, diketahui akarnya mampu menembus lapisan setebal 15 cm yang sangat keras.

Di lereng-lereng yang keras dan berbatu, ujung-ujung akar vetiver mampu masuk menembus dan menjadi semacam jangkar yang kuat. Cara kerja akar ini seperti besi kolom yang masuk ke dalam menembus lapisan tekstur tanah dan pada saat yang sama menahan partikel-partikel tanah dengan akar serabutnya.

Kondisi ini bisa mencegah erosi yang disebabkan oleh angin dan air. Akar Vetiver akan memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap daya penghancuran agregat oleh tumbukan butir-butir hujan dan pengangkutan oleh aliran permukaan, di samping itu dengan adanya perakaran vetiver akan meningkatkan daya penyerapan air di permukaan tanah sehingga jumlah air yang terinfiltrasi ke dalam tanah lebih besar.

Selain akarnya, keberadaan rumput vetiver di permukaan tanah mampu menutup tanah agar terlindung dari daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, meningkatkan daya gesek sehingga aliran permukaan mengalir dengan kecepatan yang tidak merusak.

Mayoritas masyarakat Magirejo yang bertani/berkebun membuat program ini semakin diterima karena mudah bagi masyarakat dalam memahami dan mengerjakannya. Selain biaya yang relatif murah, rumput Vetiver juga mudah tumbuh dan adaptif.

Pemeliharaan yang tidak sulit membuat Vetiver sebagai alat untuk memitigasi tanah longsor menjadi lebih unggul. Vetiver juga mudah dikendalikan karena tidak menghasilkan bunga dan biji yang dapat menyebar liar seperti alang-alang atau rerumputan lainnya.

Vetiver yang ditanam dengan metode konservasi tanah dan air untuk mitigasi tanah longsor tidak diperbolehkan dipanen akarnya. Apabila hal ini terjadi dapat menimbulkan efek yang kontradiktif, yaitu terjadinya kerusakan tanah. Namun, masyarakat dapat menanam Vetiver di lahan datar untuk dipanen dan dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan.

Diharapkan melalui program Vetiver Grass Tech, tanah longsor yang sering terjadi di Desa Ngalang dapat berkurang frekuensinya. Kegiatan ini memiliki konsep berupa pemberdayaan karang taruna dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari sisi ekologi dan ekonomi lantaran dapat meminimalkan risiko bencana tanah longsor sekaligus meningkatkan perekonomian dengan penerapan bioteknologi penanaman akar wangi secara tepat guna.

–##–

* Tim VGT, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada beranggotakan Khansa Hanun Afifah, Andrean Ardhitya Firnadi, Khairuddin Iqbal Suparta, Lu’lu-u Azizah Akma, dan Meitikasari.