Saat bumi melewati titik kritis (tipping points) dalam perubahan iklim dapat menyebabkan peningkatan terukur dalam dampak ekonomi dunia. Menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada senin, 16 Agustus 2021 pada Jurnal ‘Proceedings of the National Academy of Sciences’.

Sekelompok peneliti dari London School of Economics and Political Science, University of Delaware dan New York University telah menciptakan modelling terbaru untuk memperkirakan atau menghitung dampak ekonomi yang akan terjadi dari titik kritis perubahan iklim, seperti hilangnya Lapisan Es di Greenland.

Pada artikel yang berjudul “Economic impacts of tipping points in the climate system” ditulis oleh Simon Dietz, James Rising, Thomas Stoerk, dan Gernot Wagner. Pada skenario utama penulis menjelaskan tentang risiko dari titik kritis yang terjadi akan meningkatkan biaya ekonomi 25% karena kerusakan alam yang akan kita rasakan dampak dari perubahan iklim.

Namun, penulis menekankan bahwa hasil perhitungan untuk skenario utama mereka bisa konservatif, dan memungkinkan bahwa saat titik kritis dapat terjadi peningkatan risiko kerusakan yang jauh lebih besar. Studi mereka menemukan bahwa ada 10 %  kemungkinan dari titik kritis yang berdampak ekonomi di dua kali lipat karena perubahan iklim, dan ada 5% kemungkinan akan berdampak ekonomi hingga tiga kali lipat.

Para penulis memperkirakan delapan titik kritis atau “tipping points” yang sudah banyak dijelaskan dalam berbagai penelitian lainnya, yaitu:

1. Mencairnya es abadi yang akan menambah jumlah karbon dan metana dalam siklus karbon dunia.

2. Terpecahnya metana klarat (hidrat metana) yang selama ini terkandung di laut – hal ini akan menambah jumlah metan yang beredar dalam siklus karbon dunia.

3. Hilangnya es laut arktik (dan dampaknya dikenal ‘the surface albedo feedback’) yang hasilnya akan merubah gaya radiasi yang akan berdampak pemanasan global.

4. Hilangnya hutan Amazon yang akan melepaskan banyak karbon ke siklus global

5. Kehancuran lapisan es di Greenland yang akan meningkatkan permukaan air laut

6. Kehancuran lapisan es di  Antartika Barat yang akan meningkatkan permukaan air laut

7. Melambatnya sirkulasi laut Atlantik (Atlantic Meridional Overturning Circulation) yang selama ini membantu memodulasi suhu permukaan global dengan suhu lautan

8. Variabilitas musim badai tropis laut Hindia yang akan mempengaruhi GDP perkapita seperti di India dan milyaran orang lainnya.

Studi ini menemukan bahwa kerugian ekonomi yang dirasakan dari semua tipping points ini akan berpengaruh ke seluruh dunia – khususnya dampak dari terpecahnya hidrat metan di lautan dan melelehnya es abadi.

Pemodelan pada penelitian ini juga memperhitungkan kerugian di tingkat nasional dari peningkatan temperatur suhu maupun muka air laut untuk 180 negara.

Para penulis menyatakan bahwa semua perkiraan ini kemungkinan masih merupakan estimasi terendah dan modelnya akan terus diperbaharui sejalan dengan temuan lebih banyak informasi mengenai tipping points lainnya.

Professor Simon Dietz dari Departemen Geografi dan Lingkungan dan The Grantham Research Institute on Climate Change and The Environment di London School of Economics and Political Science mengatakan: “Peneliti iklim telah lama menggarisbawahi pentingnya ‘tipping point’ iklim seperti melelehnya es abadi, kehancuran lapisan es, dan perubahan dalam sirkulasi atmosfer. Namun demikian, kebanyakan penelitian ekonomi tentang iklim jarang memperhitungkan besarnya dampak ‘tipping points’. Kami menggabungkan estimasi dampak ekonomi dari kedelapan tipping points yang sudah banyak diketahui selama ini.”

Studi penelitian : https://www.pnas.org/content/118/34/e2103081118

Untuk wawancara dengan para penulis, mohon hubungi Bob Ward di +44 (0)7811 320346 or r.e.ward@lse.ac.uk