Oleh: Jalal *
“…if you’ve looked at the science on what is happening in the world today on the environmental front and you aren’t pessimistic, you have the wrong data. But if you meet with some of the people working on these issues all over the world and you’re not optimistic, you have no heart.” – Paul Hawken
Menyadari Batas-batas
Baru-baru ini saya mendapatkan pertanyaan yang benar-benar menyusahkan hati: Apakah kita punya alasan untuk optimistis terhadap masa depan dunia? Mungkin jawaban saya atas pertanyaan tersebut bisa ditebak dari apa kutipan pernyataan Hawken di atas. Namun, kalau ingin tahu jawaban yang lebih elaboratif daripada sekadar optimisme kondisional, izinkan saya menguraikannya lebih jauh pada paragraf-paragraf berikut ini.
Dulu Limits to Growth meramalkan masa depan dengan megembangkan empat skenario. Dua skenario business as usual, BAU dan BAU2, ditambah dengan skenario penggunaan dan pemanfaatan teknologi sangat maju, CT, serta skenario perubahan mendasar dalam nilai-nilai dan prioritas masyarakat, SW.
Gambar 1. Empat Skenario dalam Limits to Growth (Herrington, 2021)
Keempat skenario itu baru saja dilihat ulang oleh Gaya Herrington melalui artikelnya yang segera menjadi sangat terkenal, terbit di Journal of Industrial Ecology, Vol. 25/3 Juni 2021, ternyata hingga tahun 2019 data dari 10 variabel menunjukkan konsistensi dengan skenario BAU2 dan CT yang dikembangkan Donella Meadows dkk di tahun 1972. Artinya, hingga sekarang kita sesungguhnya tak cukup berubah, dan sedang berlari menuju kehancuran kehidupan yang dimulai sekitar tahun 2070 gegara polusi (BAU2), atau peradaban tidak akan hancur, namun biaya hidup akan naik tinggi sekali lantaran kita harus membayar biaya teknologi yang tinggi sekali untuk selamat (CT).
Namun penting sekali untuk dipahami bahwa apabila kita sedang ada pada trajektori CT, maka masih ada peluang—walau jendelanya semakin tertutup—untuk berada pada skenario terbaik, atau SW. Adakah alasan untuk percaya bahwa perubahan dalam nilai-nilai dan prioritas masyarakat sedang terjadi? Beberapa survei skala global menunjukkan bahwa Milenial dan Gen Z menunjukkan sikap yang lebih positif atas isu-isu lingkungan dan sosial dibandingkan generasi sebelumnya. Tentu masih perlu dilihat lebih jauh dan dalam lagi apakah perbedaan antar-generasi itu cukup untuk membengkokkan kurva industrial output, yang merupakan perbedaan terpenting di antara skenario CT dan SW.
Pembicaraan tentang safe operating space for humanity yang digagas oleh Johan Rockstrom dkk di tahun 2009 kini makin popular, dan makin kerap dipergunakan sebagai petunjuk batas-batas planetari yang tak boleh dilanggar. Namun, kesadaran atas batas-batas planetari itu bisa dibilang terlambat, karena sekarang sudah ada 4 (perubahan iklim siklus fosfor dan nitrogen, konversi lahan, dan kehilangan keanekaragaman hayati), dari 9 batas, yang sudah terlewati. Hal ini tentu saja mengkhawatirkan, dan menambah beban yang perlu ditanggung generasi sekarang.
Restorasi dan Regenerasi
Tetapi, pengetahuan itu juga berarti kekuatan. Dengan sudah terlewatinya beberapa batas itu, maka tugas manusia itu bukan sekadar berhenti melakukan kerusakan dan memelihara yang masih berada pada batas-batas aman, namun juga termasuk rehabilitasi, restorasi dan regenerasi untuk memastikan kita semua kembali ke batas aman. Lantaran pengetahuan yang demikian itu pula PBB menetapkan tahun 2021-2030 sebagai Decade on Ecosystem Restoration. Berbagai upaya perbaikan mutu lingkungan memang tampak menggeliat dalam beberapa tahun terakhir, dengan hasil-hasil awal yang menggembirakan, walau tentu saja dukungan sangat besar masih perlu diberikan hingga hasil akhirnya menjadi seperti yang diharapkan. Inisiatif-inisiatif yang sangat menonjol seperti Nature-based Solutions (NbS) perlu terus disebarluaskan dan dimanfaatkan secara optimal.
Tentu, ada banyak konsep dan praktik yang baik dan berkontribusi pada upaya konservasi hingga regenerasi. Pemanfaatannya dalam beberapa tahun terakhir juga semakin marak, bahkan seperti ada kompetisi di antara beragam konsep dan praktik itu. Salah satu yang sangat menonjol adalah ekonomi sirkular, yang didesain sejak awal untuk menghilangkan sampah. Sampah, atau bahkan polusi secara umum, adalah masalah yang sangat besar umat manusia—bahkan bisa menjadi penyebab kolapsnya peradaban, sebagaimana yang diramalkan dalam skenario BAU2 Limits to Growth.
Disandarkan pada pemikiran Walter Stahel dan dipopularkan oleh MacArthur Foundation, ekonomi sirkular tampak semakin mendapat tempat di dalam praktik perusahaan maupun perkotaan. Tetapi, ketika pengecekan dilakukan setiap tahunnya, dan dituangkan dalam laporan Circularity Gap, ternyata dalam ekonomi yang masih bergerak terlalu kencang ini, ternyata ekonomi sirkular malah makin kecil proporsinya dalam 4 tahun terakhir, sejak pertama kali diukur. Ekonomi linear—yang ditandai dengan take, make, waste—ternyata masih tumbuh lebih cepat daripada alternatifnya.
Buat saya, kondisi ini menandai masih diperlukannya promosi dan praktik yang semakin gencar oleh para pendukung ekonomi sirkular, lebih gencar dibandingkan yang kita sudah saksikan hingga sekarang. Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) yang di tahun 2021 sudah diselenggarakan kali keempat adalah forum yang tepat untuk mengecek perkembangan sirkularitas dalam praktiknya di Indonesia dan beberapa negara lain yang juga kerap ditampilkan sebagai contoh. Semakin maraknya peserta ajang tersebut dari tahun ke tahun semoga menjadi pertanda minat, pengetahuan, dan praktik ekonomi sirkular yang semakin tinggi di Indonesia dan banyak negara lain.
Memotong Konsumsi yang Berlebihan
Ketika perbaikan-perbaikan tampak lebih gencar dilakukan, tantangan yang besar bagi keberlanjutan juga datang. Kali ini datang dari penyakit menular yang memiliki dampak jauh lebih luas daripada ‘sekadar’ masalah kesehatan. COVID-19 kini sudah diketahui dampak negatifnya sangat besar terhadap keberlanjutan. Walau emisi surut sekitar 7% di tahun 2020 lalu, dan penurunan emisi merupakan hal yang diperlukan untuk mencapai target Persetujuan Paris, tapi di luar itu berbagai tujuan keberlanjutan malah terpengaruh secara negatif. Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yang pada tahun-tahun sebelumnya memang belum optimal, malahan menjadi mundur beberapa tahun, sebagaimana yang ditemukan dan dipublikasikan oleh Sachs, dkk dan PBB pada laporan-laporan tentang pencapaian SDGs 2020. Sehingga, bila tak ada terobosan besar, pencapaian SDGs di tahun 2030 itu menjadi mustahil.
Hal yang juga bisa membuat keberlanjutan makin jauh dari genggaman adalah kecenderungan manusia kembali ke cara hidup seperti semula. Alih-alih build forward better, yang terjadi setelah COVID-19 tampak mulai teratasi adalah ‘balas dendam’ setelah sepanjang 2020 merasa hidup dalam kendala. Ini misalnya bisa dilihat dari Earth Overshoot Day atau EOD. EOD tahun 2019 jatuh di tanggal 29 Juli, tahun 2020 mundur ke 22 Agustus, dan tahun ini kembali lagi ke tanggal 29 Juli.

Gambar 2. Overshoot Day 2021 di Berbagai Negara (GFN, 2021)
Salah satu pembicaraan unik terkait dengan EOD adalah posisi Indonesia. Kalau metode penghitungan EoD diterapkan ke setiap negara, maka bisa diperoleh juga kapan Country Overshoot Day (COD) jatuh. Kalau setiap negara hidup bagaikan orang Indonesia, maka EOD 2021 akan jatuh pada tanggal 18 Desember, alih-alih 29 Juli. Ini membuat wacana yang ‘aneh’ di antara banyak orang Indonesia, yang kemudian merasa menjadi orang yang paling cinta lingkungan, dan menjelek-jelekkan negara lain yang hidup dengan jauh lebih boros, hingga COD-nya jauh lebih awal.
Padahal, Indonesia mencapai tanggal tersebut lantaran ada banyak penduduknya yang miskin dan tinggal di pedesaan di dalam dan sekitar hutan, yang konsumsinya jauh lebih kecil daripada mereka yang tinggal di perkotaan. Kalau kelas menengah dan atas perkotaan di Indonesia menggunakan kalkulator gaya hidup untuk mencari tahu kapan EOD akan jatuh bila semua orang hidup seperti mereka, maka mereka akan terkaget-kaget karena hasilnya pasti jauh lebih awal lagi dibanding EOD 2021. Saya meminta beberapa orang untuk mencari tahu tanggal EOD yang disandarkan ke gaya hidup beberapa rekan, dan tampaknya mereka masih terkejut hingga sekarang.
Satu pembicaraan yang selama ini tampak ‘haram’ dalam mengupayakan keberlanjutan di banyak pihak, yaitu konsumsi yang berlebihan alias over consumption. Selain sumber energi yang majoritasnya adalah fosil, konsumsi yang berlebihan ini adalah sumber masalah yang membuat EOD menjadi seperti sekarang. Padahal, dalam Bumi yang dikonsumsi 1,7 kali lipat, jalan satu-satunya yang masuk akal adalah memotong konsumsi rerata menjadi sekitar 2/3 dari tingkat konsumsi sekarang.
Tentu, pemotongan itu tak bisa dilaksanakan secara gebyah uyah. Mereka yang hidup dengan konsumsi berlebihan yang sangat besar perlu memotong konsumsinya dalam proporsi terbesar; disusul oleh kelompok yang juga selama ini konsumsinya berlebih. Namun, mereka yang tak berlebihan konsumsinya, tentu tak perlu memotong apapun; sementara kelompok-kelompok miskin tetap perlu dibantu meningkatkan kesejahteraan dan konsumsinya sebagai pemenuhan hak untuk hidup layak. Pembicaraan ini baru saja dimulai lagi dengan lebih serius, di antaranya oleh J.B. MacKinnon dalam buku terbarunya, The Day the World Stops Shopping. Sesungguhnya degrowth di tingkat global adalah keniscayaan yang harus didukung oleh semua pihak, terutama konsumen (artinya: kita semua), kalau kita ingin genesi mendatang selamat.
Dekarbonisasi dan Keuangan Berkelanjutan
Terkait dengan sumber energi fosil, dunia telah melihat tanda-tanda positif terkait dekarbonisasi. Bukan saja karena harga rerata pembangkitan energi terbarukan sudah lebih murah daripada energi fosil, tapi juga pertumbuhan investasi di energi terbarukan yang makin jauh di atas investasi di energi fosil. Sayangnya, subsidi pemerintah di banyak negara atas energi fosil masihlah sangat besar. Ini merupakan distorsi harga energi yang sangat parah, menciptakan kesan bahwa energi fosil itu murah, dan membuat kemajuan dekarbonisasi menjadi tak optimal.
Dekarbonisasi, lewat efisiensi energi, NZE, hingga akhirnya benar-benar nol emisi bahkan negatif, akan punya peluang untuk diperjuangkan jauh lebih serius pada COP26 di Glasgow November mendatang. Sekitar seratus hari menjelang COP26 kita diberikan fakta bahwa negara-negara penghasil emisi yang besar, termasuk Indonesia, sebetulnya tak kompatibel Nationally Determined Contribution atau NDC-nya dengan Persetujuan Paris. Indonesia berada status NDC-nya pada tarjektori kenaikan suhu 3-4 derajat Celsius. Lebih buruk lagi, empat dari negara anggota G20 lainnya, termasuk Brasil yang kini dipimpin seorang pendusta iklim, malahan trajektorinya seperti membuat dunia mengarah ke kenaikan suhu 5 derajat Celsius.
Ini semua perlu diubah dengan sungguh-sungguh, di antaranya dengan memerlihatkan kesuksesan negara-negara yang trajektori dekarbonisasinya termasuk baik, juga dengan memastikan dukungan pendanaan dan teknologi dari negara-negara maju. Mereka yang secara historis menghasilkan emisi besar, dan membuat dunia ada dalam situasi sekarang, sangat perlu menunjukkan keseriusan pertobatan iklim, termasuk dengan memotong emisinya dengan jauh lebih besar dan cepat, selain membantu negara-negara berkembang untuk bisa melakukan mitigasi dan adaptasi secara optimal. Krisis iklim yang bersifat global tak bisa diatasi secara sendiri-sendiri, dan ini tampaknya semakin menjadi kesadaran kolektif menjelang Glasgow.
Salah satu pendorong keberlanjutan yang tak disangka-sangka adalah industri finansial. Industri yang selama beberapa dekade tampak agnostik terhadap keberlanjutan, atau malah menjadi sumber pembiayaan praktik-praktik perusahaan dan projek yang bertentangan dengan keberlanjutan tampak sedang berubah secara drastik. Banyak negara telah memiliki kebijakan dan regulasi yang dikeluarkan otoritas keuangan tertinggi untuk memastikan lembaga jasa keuangan, investor dan pasar modal yang beroperasi di negeri masing-masing untuk menimbang dan mengintegrasikan faktor-faktor lingkungan, sosial dan tata kelola dalam keputusan pembiayaannya.
Sustainable finance, terutama sustainable investing, saya saksikan benar-benar sedang maju pesat. COVID-19, alih-alih menghambatnya, malah makin membuatnya maju. Ini lantaran kesadaran bahwa risiko-risiko seperti kesehatan (yang masuk ke dalam faktor sosial yang penting) memang punya pengaruh atas kinerja keuangan. Semakin jelasnya petunjuk dalam menghubungkan risiko iklim dengan kinerja finansial membuat banyak lembaga jasa keuangan benar-benar menimbangnya.
Pada saat kesadaran itu hadir, studi-studi mutakhir memang memberikan bukti bahwa investasi di perusahaan dan projek yang berkelanjutan memang jauh lebih rendah risikonya dan lebih tinggi profitabilitasnya. Ini membuat para investor yang tadinya hanya mencari keuntungan finansial sekalipun mulai melirik investasi yang menunjukkan perhatian pada keberlanjutan. Ramalan paling optimistik atas kondisi investasi berkelanjutan ini adalah di tahun 2025 investasi berkelanjutan mulai menjadi dominan.
*****
Jadi, memerhatikan seluruh perkembangan mutakhir yang saya paparkan itu, tantangan memang masih sangat besar, namun upaya-upaya perbaikan bukannya tak ada atau tak massif. Jelas keberlanjutan makin diupayakan oleh makin banyak pihak, walau hasilnya di sana-sini tampak belum bisa memberikan harapan yang membuat benar-benar optimistis. Tetapi itu kalau trajektori dilihat secara linear. Buat saya, optimisme harus ditegakkan, lantaran upaya-upaya yang dilakukan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, memang serius. Lebih jauh, harapan akan tampak semakin besar apabila kita meyakini adanya trajektori yang eksponensial. John Elkington, lewat buku terbarunya Green Swans: The Coming Boom in Regenerative Capitalism, menyatakan optimisme atas peluang terwujudnya pertumbuhan keberlanjutan yang eksponensial itu. Lewat tulisan ini saya hendak mengaminkan pendirian Elkington itu.
–##–
* Jalal menulis esai-esai tentang keberlanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, dan bisnis sosial. Ia memegang sejumlah posisi dalam bidang-bidang tersebut, di antaranya sebagai reader dalam bidang tata kelola perusahaan dan ekologi politik di Thamrin School of Climate Change and Sustainability; pimpinan dewan penasihat Social Investment Indonesia; pimpinan dewan pakar Social Value Indonesia; strategic partner CCPHI Partnership for Sustainable Community; anggota dewan pengurus Komnas Pengendalian Tembakau; dan pendiri sekaligus komisaris di perusahaan sosial WISESA dan ESG Indonesia.
Pak Jalal, saya kira banyak pihak yg berpengaruh kuat di Negeri ini yang mindset nya masih keliru terkait serangkaian variable sustainability termasuk carbon foot print sebagai dampak kebijakan yg mereka buat.. mind map yg simple dan komprehensive saya.kira perlu dibuatkan unt meluruskan