Site icon Situs Hijau Indonesia

Belajar Mengelola Pesisir dari Nelayan Kaledupa di Wakatobi

Oleh: Swary Utami Dewi “

Gelak tawa ceria sekelompok ibu menghentikan langkahku. Saat itu, siang 8 November 2020, aku baru tiba di Desa Darawa, Kecamatan Kaledupa Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Darawa juga merupakan pulau kecil di Kabupaten Wakatobi, yang terletak tidak jauh dari Pulau Kaledupa. Masyarakat Darawa hampir semua dihuni oleh suku asli Kaledupa.

Di Darawa ada satu kelompok nelayan pesisir yang sudah mendapatkan skema Kemitraan Perhutanan Sosial, dalam bentuk SK Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK), dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Kelompok tersebut bernama Dewara. Kelompok Dewara telah menjadi mitra Balai Taman Nasional Wakatobi semenjak 2007. Di dalamnya ada 62 keluarga yang tergabung, yang bahu membahu membangun desa konservasi.

Desa Darawa sendiri memang telah mengembangkan sistem penghidupan yang memadukan pembesaran gurita dan budidaya rumput laut secara bergantian. Kegiatan ini dilakukan oleh lelaki dan perempuan, dalam rentang usia produktif hingga 60 tahunan. Untuk gurita, pembesaran hanya dilakukan dalam jangka tiga bulan sampai gurita cukup besar dan siap panen. Sesudah masa sasi selesai, gurita harus dibiarkan untuk bisa tumbuh besar dan bebas hidup di laut. Tidak boleh ditangkap atau diganggu. Ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan ekosistem gurita, namun pemanfaatan ekonomi tetap bisa dilakukan masyarakat. Dua kali setahun pembesaran gurita dilakukan.

Suhardin, sang sekretaris kelompok, menjelaskan sistem pembesaran binatang laut ini dengan cara melarang eksploitasi dalam jangka waktu tiga bulan di suatu luasan kawasan laut tersebut adalah praktik tradisional/lokal. Dalam bahasa Kaledupa ini dinamakan ‘sasi’ (wilayah kelola). Awal penutupan wilayah kelola gurita untuk membiarkan gurita tumbuh selama 3 bulan disebut ‘tobanto’. Saat gurita sudah berukuran cukup besar setelah 3 bulan dan kawasan sudah boleh dibuka untuk panen gurita disebut ‘tobeta’.

Uniknya, wilayah sasi berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Di Desa Darawa, ada sasi khusus laki-laki, juga sasi perempuan. Bedanya adalah kedalaman air laut yang diukur saat air laut surut untuk panen gurita. Untuk laki-laki, kedalaman wilayah sasi dari atas lutut sampai dada, sedangkan sasi perempuan di wilayah yang lebih dangkal, maksimal sebatas lutut orang dewasa. Sasi untuk perempuan di tempat yang relatif dangkal saat air surut dimaksudkan untuk memudahkan para nelayan perempuan mengambil gurita saat panen. “Waktu panen gurita, kami mudah menangkapnya, karena saat surut, air laut tingginya hanya selutut, ” ujat Numala, 28 tahun. Keterangan ini turut diamini oleh Amalia, 36 tahun. Nurmala dan Amalia bersama para perempuan lainnya di kelompok ini terlibat langsung dalam pembesaran gurita yang menggunakan praktik tradisional sasi. Untuk kelompok Dewara sendiri, mereka memiliki 3 sasi. Dua sasi khusus laki-laki seluas 89 dan 41 ha. Satunya lagi untuk perempuan seluas 40 ha.

Untuk rumput laut, budidaya tanam dan panen dilakukan juga empat kali dalam setahun oleh kelompok. Bibit rumput laut memerlukan media tanam untuk bisa menempel dan tumbuh. Media tersebut harus mengapung di laut dan memungkinkan bibit rumput laut menjuntai ke bawah ke arah laut. Di Desa Darawa, media apung yang digunakan adalah sampah-sampah botol dan gelas plastik. Prinsip “pemakaian ulang” dipraktikkan penduduk setempat. Dampaknya, sampah tidak berkeliaran mengotori laut sekitar.

Budidaya rumput laut juga menandakan kerjasama yang baik antara laki-laki dan perempuan. Perempuan yang memasang bibit di media apung dan laki-laki yang kemudian bertugas menancapkan kayu-kayu pancang tempat diikatnya media apung bibit secara memanjang di dasar pesisir. Tiga bulan kemudian rumput laut siap dipanen. Saat panen laki-laki lebih banyak berperan, sementara perempuan bertugas memilah dan menjemur rumput laut hingga kering dan siap jual. Semua hasil panen, baik gurita dan rumput laut, juga tangkapan ikan, biasanya langsung dijual di tempat. Ada pengumpul yang rutin datang membeli hasil panen masyarakat ke desa.

Sistem penghidupan yang dipraktikkan masyarakat Dewara dari pembesaran gurita dengan sistem tradisional sasi, budidaya rumput laut, dan juga penangkapan jenis ikan laut lainnya, cukup untuk menopang hidup mereka. Ukurannya sederhana. Mereka bisa menyekolahkan anak hingga kuliah. Semua anggota kelompok mengaku anak mereka rata-rata berkuliah di kota Bau-Bau atau Kendari. Beberapa menyekolahkan anak hingga ke Makassar, bahkan ke kota-kota di Pulau Jawa.

“Ada yang punya utang?” tanyaku kepada anggota kelompok yang hadir. Mereka menjawab tidak. Keuntungan dari budidaya rumput laut misalnya juga bisa ditabung untuk nanti dipergunakan membeli sebagian bibit rumput laut, jika diperlukan.

Sebagai penutup, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Darman, menyatakan, karena keunikan tradisi dan inovasi yang ramah lingkungan, kelompok nelayan Dewara sudah mendapatkan dua kali penghargaan dari KLHK. Satu dari Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, satunya lagi dari Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem.

–##–

* Swary Utami Dewi adalah Climate Reality Leader dan Anggota TP2PS, Tim Penggerak Percepatan Perhutanan Sosial.

Exit mobile version