Oleh: Mahpud Sujai *

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan kejadian rutin yang terjadi di negara kita yang harus diantisipasi agar tidak terjadi kembali atau minimal intensitasnya semakin kecil. Ketika terjadi kebakaran hutan hebat di tahun 2016, hampir sepertiga pulau Sumatera dan Kalimantan semua terkena dampaknya, bahkan asapnya terekspor hingga negeri jiran Singapura dan Malaysia. Dampak yang ditimbulkan dari kejadian karhutla kali ini tak terhitung besarnya, baik kerugian ekonomi, ekosistem maupun sosial termasuk kesehatan. Kejadian seperti ini kembali terjadi lagi dan lagi, seolah kita seperti keledai yang jatuh dalam lubang yang sama berkali-kali.

Berbagai langkah telah dilakukan oleh pihak terkait untuk mengatasi permasalahan tersebut, bahkan presiden sendiri telah turun tangan dengan mengunjungi lokasi karhutla. Pelaku pembakaran hutan sudah teridentifikasi dan telah dicari oleh pihak yang berwajib. Namun, segala tindakan yang telah dilakukan oleh pemerintah tersebut hanya merupakan solusi jangka pendek dan di atas permukaan saja. Akar permasalahan karhutla sampai saat ini masih belum dapat diatasi dan bukan hal yang mustahil dalam waktu beberapa tahun kedepan kejadian ini akan terulang kembali bahkan dengan intensitas dan cakupan yang lebih luas.

Akar Permasalahan

Dalam menangani permasalahan karhutla secara komprehensif, ada baiknya jika kita mengetahui terlebih dulu bagaimana karakteristik hutan dan lahan yang terbakar. Hutan dan lahan yang terbakar merupakan lahan gambut yang pada dasarnya memang sangat mudah terbakar dan mengandung karbon yang tinggi.

Lahan gambut tersebut pada awalnya merupakan lahan basah (wetland) dengan tutupan vegetasi menjadi kanopi yang sangat beragam. Campur tangan manusia menjadikan lahan gambut sebagai perkebunan dalam hal ini didominasi oleh perkebunan kelapa sawit menjadikan lahan gambut yang basah menjadi kering. Mengapa terjadi demikian, karena sawit merupakan tanaman yang hanya bisa hidup di lahan kering, sehingga agar lahan gambut tersebut bisa ditanami sawit, maka lahan gambut harus dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan lahan gambut dilakukan dengan membuat kanal-kanal yang dapat mengalirkan air yang berasal dari lahan gambut ke laut.

Kondisi tersebut menjadikan lahan gambut menjadi rusak, kering dan mudah terbakar. Ketika terjadi elnino atau kemarau panjang, permukaan air di lahan gambut kering turun hingga 1,5 meter dibawah permukaan tanah. Padahal air dalam lahan gambut hanya dapat ditolerir jika permukaan air turun hanya sampai 0,4 meter di bawah permukaan tanah. Keringnya lahan gambut merupakan akar permasalahan karhutla yang harus diatasi karena selain menimbulkan bencana baik sosial, lingkungan maupun kesehatan, juga menimbulkan emisi gas karbon yang cukup tinggi.

Restorasi Gambut

Untuk mengatasi akar permasalahan karhutla tersebut, diperlukan solusi ekstrim yaitu mengembalikan lahan gambut ke khitahnya dengan cara merestorasi gambut. Terdapat 3 langkah utama yang dapat dilakukan dalam merestorasi lahan gambut.

Pertama adalah rewetting, atau membasahi kembali lahan gambut dengan mengembalikan kondisi lahan gambut dari keadaan rusak dan kering menjadi basah. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat sekat atau membendung kanal-kanal yang memang dibuat untuk mengeringkan lahan gambut dan membuang airnya ke laut. Dengan membuat sekat kanal, maka air gambut akan terbendung dan meluber membasahi kembali lahan-lahan gambut yang sudah kering.

Langkah kedua yang dilakukan adalah merevitalisasi lahan gambut yang sudah basah dengan cara menanam tumbuhan yang cocok dengan lahan gambut basah. Tanaman yang bisa ditanam antara lain adalah sagu, karena tanaman sagu hanya bisa hidup di lahan yang basah.

Langkah terakhir yang penting dilakukan adalah merestrukturisasi perekonomian masyarakat sekitar lahan gambut yang saat ini mendapatkan manfaat ekonomi dan penghidupan dari lahan gambut kering seperti kebun sawit. Masyarakat harus didorong untuk kembali ke fitrah lahan gambut dengan memperoleh manfaat ekonomi dari lahan gambut basah dengan cara menanam tanaman yang cocok hidup di lahan gambut basah seperti pohon sagu atau nanas.

Solusi Ekstrim

Namun masyarakat tidak akan mau menanam pohon sagu jika tidak ada permintaan dari pasar. Agar masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari lahan gambut basah, maka perlu diciptakan demand terhadap pohon sagu. Langkah ini memerlukan terobosan ekstrim dari para pengambil kebijakan.

Salah satu sektor yang dapat dijadikan demand untuk tepung sagu adalah industri makanan, mi instan misalnya.  Selama ini mi instan menjadikan gandum sebagai bahan baku dimana seluruh bahan bakunya harus impor karena negara kita tidak bisa menghasilkan gandum. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor gandum selain membahayakan ketahanan pangan juga menyebabkan defisit transaksi berjalan yang lama kelamaan akan membahayakan perekonomian.

Produsen makanan berbahan baku gandum dapat menjadikan tepung sagu sebagai bahan baku alternatif atau campuran untuk membuat mi. Solusi tersebut sebetulnya sudah dilakukan pemerintah dengan kebijakan mewajibkan bahan bakar minyak dicampur dengan minyak nabati atau biodiesel dengan kebijakan B20 nya. Pemerintah dapat mewajibkan produsen makanan berbahan baku gandum untuk menggunakan tepung sagu sebagai campuran misalnya 10 persen atau 20 persen dari bahan bakunya.

Dapat dibayangkan berapa tambahan demand dari pohon sagu jika kebijakan tersebut diterapkan. Dampak turunannya adalah masyarakat di lahan gambut akan mau menanam sagu dan menjadikan lahan gambut menjadi basah kembali dan karhutla akan hanya tinggal kenangan.

Menjaga kearifan lokal dan kelestarian lingkungan merupakan warisan turun temurun yang harus dijaga. Jangan sampai karena mengatas namakan ekonomi dan keuntungan semua harus rusak dan malah menimbulkan kerugian yang lebih besar.

–##–

* Mahpud Sujai adalah Peneliti Madya, Kepakaran Pembiayaan Perubahan Iklim di Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis.