Oleh : Daud P. Purba *

Ibarat pepatah, kecil kecil cabe rawit, biar kecil tapi bermanfaat. Penulis, menganalogikan kepada luas dari  hutan adat yang cukup kecil untuk ukuran hutan namun bermanfaat.  Hutan Adat Hemaq Beniung merupakan hutan adat yang melalui program Perhutanan Sosial  telah ditetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2017  dan  berada di Kampung Juaq Asa Kabupaten Kutai Barat.

Hutan adat Hemaq Beniung merupakan hamparan kecil hutan sekunder yang berada sangat dekat dengan Pusat Pemerintahan Kabupaten Kutai Barat yaitu Barong Tongkok. Dengan luas hanya 48.85 Ha,  namun memiliki manfaat ekologis yang  baik khususnya bagi masyarakat Kampung Juaq Asa yaitu sebagai sumber air,  penghasil oksigen dan secara ekonomi memberikan nilai tambah peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan wisata alamnya.  Areal wisata hutan adat Hemaq  Beniung  ditumbuhi berbagai jenis tegakan hutan yang cukup rapat serta terdapat sebuah danau yang sumber airnya berasal dari hutan adat Hemaq Beniung.  Hal ini  memberikan  daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin merasakan sensasi  hutan adat tanpa harus menempuh perjalanan yang jauh dari kota.

Sadar akan potensi  2 spot lokasi ini, membuat masyarakat  kampong Juaq Asa dan masyarakat adat Kampung Juaq Asa berkolaborasi untuk mengembangkannya  menjadi objek wisata baru, selain karena lokasinya dekat dengan kota, akses menuju lokasi sangat bagus. Tahun 2017 dimulailah  rencana pengembangan wisata baru dengan ditunjang anggaran dana desa dan adanya SK Penetapan Hutan Adat oleh Menteri LHK,  namun yang lebih utama adalah adanya keinginan masyarakat untuk suatu perubahan.

Dengan usaha dan doa, secara bertahap pembangunan berjalan dengan baik hingga pada tahun  2019 secara resmi wisata air Hemaq Beniung dibuka oleh Bupati Kutai Barat  Bpk. FX Yapan, SH dan secara penuh wisata ini dikelola oleh salah satu Badan Usaha Milik Kampung (BUMKA)  Kampung Juaq Asa.  Usaha promosi dilakukan  melalui  media sosial serta penambahan unit fasilitas seperti Sepeda Bebek, Perahun karet, Pelampung, Hammock, Gazebo terus dikembangkan.

Hasilnya sekarang? luar biasa. Pengunjung yang datang  bukan hanya dari masyarakat kota Melak dan Barong tongkok, bahkan dari luar kota. Pendapatan  dari kunjungan wisata sejak diresmikan  Maret 2019 hingga Desember 2019 mencapai ± Rp300 Juta.  Pendapatan tersebut memang tidak menjadi pendapatan asli kampung karena pengelolaannya berbasis masyarakat sehingga hasil tersebut dinikmati oleh semua masyarakat baik yang bekerja maupun yang berinvestasi di tempat wisata.

Dampak dari antusiasnya pengunjung dan adanya peningkatan ekonomi, masyarakat Kampung Juaq Asa memaksimalkan sumber daya yang ada   dengan membuka areal wisata baru  di Hemaq  yang  akan diresmikan pada tahun 2020.   Percepatan  pembangunan infrastruktur wisata alam Hemaq  Beniung yang lokasi tepat di hutan adat terus dikebut.

Saat ini telah berdiri sebuah rumah panggung yang cukup megah dan terbuat dari kayu Ulin (Eusideroxzylon zwageri) dengan fasilitas ruang pertemuan, ruang informasi, ruang penjualan cendramata bahkan telah disiapakan 2 unit kamar yang dilengkapi toilet, kamar tidur sehingga nantinya pengunjung dapat menyewa fasilitas tersebut.

Daya tarik dari wisata ini adalah adanya tracking sepanjang 300 meter menuju ke dalam hutan adat yaitu melintasi titian kayu ulin sehingga nantinya pengunjung dapat menikmati alam dan pepohonan serta menghirup udara segar.  Sebuah pemikiran yang baik, wisata ini  diharapkan  dapat menjadi sebuah  edukasi untuk mengenalkan kepada masyarakat akan pentingnya hutan  bagi manusia.  Adanya hubungan yang baik antara manusia dan lingkungan khusunya hutan dapat menciptakan terobosan dalam bidang wisata sehingga memberikan manfaaat bagi peningkatan pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat.

Perjalanan menuju keberhasilan masih panjang, namun dengan kebersamaan dan kekompakan  serta  dukungan pemerintah baik itu melalui pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Barat baik itu melalui peningkatan kapasitas SDM serta pendanaan diharapkan memberikan motivasi yang besar demi keberlanjutan pelestarian alam serta peningkatan kesejahteraan masyarakat,

Salam Lestari. Hutan Adat, Wujud Masyarakat Berdaulat ,Bangsa Bermartabat

–##–

* Daud P. Purba adalah Pengendali Ekosistem Hutan Pada BPSKL Wilayah Kalimantan. Tulisan ini adalah pendapat pribadi penulis.