Hari Lingkungan Hidup Dunia diperingati setiap tanggal 5 Juni. Makanan yang kita konsumsi, udara yang kita hirup, air yang kita minum dan iklim yang aman yang menjadikan bumi layak ditinggali, semua bersumber dari alam. Namun, apa yang terjadi akhir-akhir ini, termasuk dengan pandemi COVID-19, semakin mengingatkan kegagalan kita dalam menjaga lingkungan.

Pernyataan di atas disampaikan oleh Lembaga Lingkungan PBB atau United Nations Environment Programme (UNEP) dalam lamannya terkait Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Kondisi saat ini, kerusakan alam dan lingkungan terus terjadi. Satu juta spesies terancam punah dalam waktu dekat ini. Padahal alam adalah faktor penyumbang tercapainya setidaknya 9 target pembangunan berkelanjutan/ Sustainable Development Goals (SDGs).

Kesembilan target pembangunan berkelanjutan tersebut adalah: Target No.1 – Menghilangkan Kemiskinan, Target No.2 – Menghilangkan Kelaparan, Target No. 6 – Menyediakan Air Bersih dan Sanitasi, Target No.7 – Menyediakan Energi yang Bersih dan Terjangkau, Target No.12 – Mewujudkan Pola Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan, Target No. 13 – Aksi Iklim, Target No. 14 – Menyelamatkan Kehidupan di Air, Target No. 15 – Menyelamatkan Kehidupan di Darat dan Target No. 17 – Kerjasama untuk Mencapai Semua Target Tersebut. Bagaimana capaian target-target di atas?

Target No.1 – Menghilangkan Kemiskinan

Dalam laporan The Sustainable Development Goals Report 2019, Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan tegas menyatakan bawah target mengurangi angka kemiskinan tidak akan tercapai. PBB memperkirakan masih akan ada 6% penduduk dunia yang berada di bawah garis kemiskinan pada 2030. Sebanyak 55% penduduk dunia tidak memiliki jaminan sosial. Wilayah sub-sahara Afrika menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin ekstrem terbanyak, sebesar 413 juta atau 56% dari jumlah total pada 2015. Semakin miskin suatu wilayah, semakin besar pula kerentanan saat terjadi bencana. Data PBB menyatakan, 90% kematian akibat bencana terjadi di negara-negara miskin. Alam yang melindungi, mensejahterakan belum mampu terwujud untuk membantu mencapai target ini.

Target No.2 – Menghilangkan Kelaparan

Data PBB menunjukkan, alih-alih menurun, jumlah penduduk dunia yang kelaparan terus meningkat dari 784 juta di 2015 menjadi 821 juta di 2017. Ironisnya, dua pertiga atau 66% penduduk yang kelaparan ini bekerja di sektor produksi pangan, di sektor pertanian. Ada yang sangat salah dengan kondisi ini. Petani masih terus termarjinalkan. Keberpihakan terhadap petani lokal sangat rendah, kalah dengan kepentingan para pencari renten dan politikus yang tak memiliki keberpihakan pada rakyat. Pandemi COVID-19 melonjakkan jumlah penduduk yang kelaparan ini.

Target No.6 – Menyediakan Air Bersih dan Sanitasi

Lagi-lagi, data PBB menunjukkan kegagalan dalam upaya menyediakan air bersih dan sanitasi ini. Sebanyak 785 juta penduduk dunia masih tidak memiliki akses ke fasilitas air minum yang layak di 2017. Sebanyak 2 dari 5 penduduk dunia tidak memiliki fasilitas cuci tangan yang layak menggunakan air dan sabun – bayangkan kondisi mereka saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini. Sebanyak 673 juta orang masih BAB di ruang terbuka, mayoritas adalah penduduk di Asia Selatan. Dan 700 juta penduduk di bumi terancam mengungsi akibat kekurangan air ekstrem.

Target No.7 – Menyediakan Energi yang Bersih dan Terjangkau

Walau 90% penduduk dunia sudah memiliki akses ke energi listrik, tidak semua wilayah bisa terjangkau jaringan listrik dan hidup 24 jam sehari seperti yang sekarang Anda nikmati. Peluang terbesar untuk menyediakan listrik bagi mereka adalah dengan menggunakan energi baru dan terbarukan. Namun EBT baru menyumbang 17,5% total konsumsi energi dunia. Masih ada 3 miliar penduduk bumi yang tidak memiliki akses ke energi yang bersih untuk memasak.

Dan alih-alih mendukung EBT, laporan terbaru berjudul “Still Digging: G20 Governments Continue to Finance the Climate Crisis” yang dirilis, Rabu, 27 Mei 2020 menyatakan, negara-negara anggota G20 – termasuk Indonesia, masih terus memberikan stimulus sebesar $77 miliar (Rp1.128 triliun) per tahun ke proyek-proyek minyak, gas dan batu bara sejak Kesepakatan Paris/Perjanjian Paris terwujud.

Target No.12 – Mewujudkan Pola Konsumsi dan Produksi yang Berkelanjutan

Eksploitasi sumber daya alam masih terus berlangsung. Dunia menggunakan 92 milyar ton bahan baku pada 2017 naik dari 54 miliar ton pada tahun 2000 dan diperkirakan akan terus naik ke 190 miliar ton bahan baku pada 2060. Jejak penggunaan bahan baku (material footprint) masyarakat di negara maju 13 kali lipat lebih tinggi dibanding dengan masyarakat di negara miskin. Walaupun sudah ada 100 negara yang aktif mempromosikan pola konsumsi dan produksi yang ramah alam, namun tren “pemborosan berkelanjutan” masih tercermin dari data di atas.

Target No.13 – Aksi Iklim

Ukuran pencapaian target ini sangat mudah. Data ilmiah menunjukkan, suhu bumi saat ini telah naik 1°Celcius di atas suhu bumi sebelum revolusi industri. Walau 186 negara sudah meratifikasi Perjanjian Paris/Kesepakatan Paris, aksi mereka memangkas emisi gas rumah kaca – pemicu pemanasan global, masih gagal mencapai target. Padahal, krisis iklim telah mencabut 1,3 miliar nyawa dalam periode 1998-2017. Untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C, konsentrasi emisi karbon di bumi harus dipangkas 55% dari level tahun 2010 pada 2030 atau 10 tahun lagi. Setelah itu diharapkan dunia berhenti menghasilkan polusi iklim (zero net emissions) pada 2050.

Target No.14 – Menyelamatkan Kehidupan di Air

Pencapaian target ini juga jauh panggang dari api. Tingkat keasaam air laut telah naik 26% sejak masa sebelum revolusi industri di abad ke-18. Tingkat keasaam air laut ini diperkirakan akan terus naik antara 100-150% hingga 2100. Hal ini terjadi walau dunia telah melipatgandakan wilayah perairan negara yang dilindungi menjadi 17% dari level 2010. Pemicunya karena laut menyerap 90% konsentrasi karbon dioksida di atmosfer memicu peningkatan keasaman air laut.

Kenaikan konsentasi emisi GRK juga memicu turunnya produksi bahan sulfur penting bernama dimethylsulphide atau DMS. Melalui penelitian dalam ekosistem air laut yang terkontrol yang dikenal dengan nama “mesocosms”, tim peneliti menyimpulkan, DMS yang dihasilkan oleh samudera adalah sumber alami emisi sulfur dalam atmosfer terbesar. Emisi sulfur dalam atmosfer berperan penting memantulkan energi dan radiasi matahari kembali ke angkasa sehingga bumi terhindar dari efek pemanasan global. Semua ini berdampak pada keselamatan dan perekonomian penduduk dunia.

Target No. 15 – Menyelamatkan Kehidupan di Darat

Tidak hanya di bawah air, di atas permukaan bumi pun, manusia dinilai gagal beraksi menyelamatkan lingkungan. Kondisi keanekaragaman hayati terus menurun. Dalam 25 tahun terakhir laju kepunahan naik 10%. Degradasi lahan terus terjadi dengan luas mencapai 20% wilayah bumi. Sebanyak 1 miliar penduduk dunia merasakan dampak degradasi lahan ini. Semua ini terjadi saat luas wilayah yang dilindungi terus naik. Wilayah daratan (terrestrial areas) yang dilindungi naik 39% dalam periode 2000-2018. Sementara luas wilayah air tawar dan pegunungan yang dilindungi meningkat 42% dan 36% pada periode yang sama. Sehingga, pertanyaan masih mengemuka soal efektivitas pengelolaan kawasan-kawasan lindung ini.

Target No. 17 – Kerjasama untuk Mencapai Semua Target Tersebut

Gagalnya pencapaian target-target SDGs di atas rupanya juga tercermin dari kinerja target SDGs yang terakhir ini. Bantuan negara-negara maju atau yang dikenal dengan nama Official Development Assistance (ODA) walaupun tidak menjadi penggerak utama pencapaian target SDGs, namun berfungsi penting dalam mendorong perubahan di negara-negara miskin dan berkembang. Data PBB menunjukkan, jumlah bantuan dari negara-negara maju untuk negara-negara miskin turun 3% di 2018 dari tahun sebelumnya. Demikian juga bantuan untuk negara-negara di Afrika, yang turun 4%.

Di hari lingkungan hidup dunia ini tidak ada upaya lain yang bisa dilakukan selain meningkatkan kerja sama dan komitmen untuk menjaga alam. Saatnya untuk sadar, saatnya untuk lebih peduli, saatnya untuk lebih perhatian lagi terhadap lingkungan. Saatnya manusia membangun bumi lebih baik lagi. Karena Hari Lingkungan Hidup Dunia tahun ini adalah hari bagi alam, bagi bumi.

Redaksi Hijauku.com