Oleh: Joko Tri Haryanto *

Siapa yang tak kenal dengan binatang kunang-kunang? Selain Si Kancil, cerita legendaris di masa kecil seluruhnya pasti banyak mengulas tentang binatang ini. Di seluruh pelosok desa,
kunang-kunang bahkan sudah menjalankan peran sebagai penerang ketika listrik belum
menyentuh masyarakat. Tak heran jika semua pihak merasa kaget ketika diberitakan oleh
beberapa ilmuwan bahwa kunang-kunang berada dalam status terancam hilang dan punah.
Merujuk kepada laporan ilmuwan dari Tufs University, disebutkan bahwa populasinya di seluruh
dunia tinggal sekitar 2.000 sehingga masuk dalam kategori spesies terancam punah. Hilangnya
habitat asli dianggap menjadi faktor utama munculnya darurat kunang-kunang. Hutan alam dan
tanaman mangrove dianggap menjadi habitat terbaik bagi kunang-kunang.

Selain hidup dan tempat berlindung, habitat ini juga menjadi penjamin proses pembuahan demi
terciptanya regenerasi. Sayangnya banyak hutan alam sudah dikonversi menjadi bangunan
sementara tanaman mangrove justru ditebang untuk diubah menjadi perkebunan kelapa sawit
atau peternakan. Yang lebih mengejutkan, faktor penyebab utama berikutnya adalah tingginya
penggunaan cahaya buatan di era kehidupan modern. Cahaya buatan yang dihasilkan oleh
lampu kendaraan, lampu iklan dan juga lampu jalanan ternyata mempengaruhi proses ritual
perkawinan antar kunang-kunang. Masifnya cahaya buatan tersebut menghambat kunang-
kunang mengeluarkan cahayanya sebagai salah satu bentuk reaksi kimia untuk menarik
pasangan hingga akhirnya binatang tersebut resmi masuk dalam daftar terancam kepunahan.

Darurat Iklim

Tragis memang melihat fakta tersebut terlebih ketika lebih dari 11 ribu ilmuwan di 156 negara
dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan dalam kesempatan lainnya juga menyebutkan bahwa
dunia sedang mengalami darurat iklim. Mereka juga mengamati berbagai potensi dampak buruk
yang ditimbulkan apabila manusia tidak mengubah pola perilakunya. Jika dirunut, hal tersebut
bukan yang pertama kalinya karena sebelumnya tahun 2017, sekitar 16 ribu ilmuwan dari 184
negara turut serta dalam sebuah publikasi yang meyakini bahwa manusia dan alam berada di
jalur yang tak tepat. Laporan terbaru oleh BioScience, jurnal ilmiah peer-review menguatkan
statemen ini. Dalam rekomendasinya, para ilmuwan yang berasal lebih dari 150 negara,
mengatakan krisis iklim “terkait erat dengan konsumsi berlebihan gaya hidup orang kaya”.

Di level implementasi, banyak hal yang mengindikasikan dunia darurat iklim. Meluasnya skala
bencana juga memberikan tekanan yang besar bagi upaya mengatasi dampak perubahan iklim.
Indonesia, sejatinya menjadi salah satu pemain utama dalam isu mengatasi dampak perubahan
iklim ini. Luasan hutan yang sangat signifikan menjadi katalisator utama penurunan emisi
secara global. Tak heran jika banyak pihak menuntut agar penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dipimpin langsung oleh Presiden, demi mencegah berbagai tarikan kepentingan antar sektor yang terkadang justru menjadi penghambat solusi penanganan.

Laporan panel ahli Intergovernmental Science Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem
Services (IPBES) menjadi penegas lain betapa seriusnya dampak perubahan iklim terhadap
laju kepunahan keanekaragaman hayati (kehati) secara global. Ketika laju kepunahan ini tidak
dapat dicegah, akan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia ke depannya. Secara
detail kelimpahan spesies asli di sebagian besar habitat di daratan, air tawar dan lautan telah
turun paling sedikit 25% sejak tahun 1990 dan laju degradasinya melonjak dalam 40 tahun
terakhir termasuk munculnya berbagai endemik penyakit baru salah satunya adalah penyakit
malaria dan juga Corona yang sedang mewabah secara global.

Seriusnya kebakaran hutan di Australia yang hingga detik ini belum juga berakhir secara tuntas
dan korban diperkirakan akan bertambah setiap harinya. Kerugian materi dan harta benda
sudah tak ternilai seiring meluasnya skala bencana yang merambah beberapa negara bagian.
Otoritas setempat menyatakan bahwa segala upaya sudah dikerahkan dengan tujuan
meminimalkan jatuhnya korban jiwa. Memperhatikan sejarah panjang kejadian bencana yang
pernah melanda Australia, kebakaran hutan kali ini dianggap sebagai salah satu yang terbesar.
Polusi dan memburuknya kualitas udara menjadi dampak ikutan yang cukup mengkhawatirkan
banyak pihak karena dianggap mematikan.

Di tengah bencana tersebut, di belahan bumi lainnya justru tersiar kabar bahwa Bandara Dubai
sebagai salah satu markas maskapai penerbangan internasional terbesar, Emirates, justru
mengalami bencana banjir yang memaksa banyaknya penerbangan delay dan cancel ke
sejumlah tujuan utama di berbagai dunia. Terganggunya landasan pacu oleh genangan air
akhirnya memaksa beberapa maskapai penerbangan memindahkan aktivitasnya ke bandara
utama lainnya yang berjarak hampir 37 km dari Bandara Dubai. Masih tingginya intensitas hujan
dalam beberapa hari ke depan, memaksa pemerintah berpikir cepat demi mengurangi dampak
kerugian yang ditimbulkan.

Kondisi ini jelas perlu mendapat perhatian super ekstra dari pemerintah. Di satu sisi, darurat
iklim global membutuhkan kerja sama antar negara, di sisi lain, perhatian negara-negara besar
yang awalnya digadang menjadi leader dalam solusi iklim justru sedang disibukkan oleh faktor
geo-politik masing-masing. Tak ayal jika pemerintah masing-masing negara kemudian dituntut
untuk mengambil solusi dengan mengandalkan pendanaan domestik. Efisiensi dan
efektivitas kebijakan menjadi kata kunci disamping perbaikan tata kelola pemerintahan. Bagi
Indonesia sendiri, salah adalah tawaran konsep yang menarik adalah gerakan de-karbonisasi
pertumbuhan ekonomi. Ingat bahwa ancaman darurat iklim bukan sekedar bualan karena
faktanya sudah di depan mata. Tidak perlu menunggu waktu lagi karena yang dibutuhkan saat
ini adalah aksi nyata bukan wacana semata!

–##–

* Joko Tri Haryanto adalah Peneliti di Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI. Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja.