Oleh: Sonny Mumbunan *

Basic Income sedang naik daun. Belakangan ini ia meluas sebagai bahan perbincangan, buah pemikiran, dan bagian dari perumusan kebijakan. Para inovator teknologi secara terbuka menganjurkan Basic Income untuk dieksplorasi. Anjuran tersebut meluncur dari para CEO atau founder di Facebook, Twitter, Tesla, penemu touch screen, dan sosok serupa lainnya. Para intelektual dari berbagai aliran pemikiran membahas, mendorong atau mengkritik Basic Income. Penerima Nobel Ekonomi tahun 2019 adalah ilustrasi terkini yang menjajaki sekaligus mengkaji kemungkinan Basic Income.

Di lapangan politik, hari-hari ini Basic Income jadi pokok perdebatan pada pemilihan perdana menteri di UK atau pencalonan presiden di US. Di banyak negara Eropa, partai dan serikat buruh melakukan perdebatan ideologis dan programatik tentang kemungkinan dan keterbatasan Basic Income. Uji coba terbatas Basic Income telah dan tengah dijalankan di berbagai negara dalam berbagai bentuk dan skema; uji coba terkini berlangsung baik di negara maju, seperti di negara-negara Skandinavia, maupun di negara berkembang seperti di India dan Brazil.

Potongan-potongan perkembangan mutakhir tentang Basic Income yang digambarkan di sini menarik untuk sebuah gagasan yang sebetulnya telah dirintis di Eropa sejak akhir tahun 1700-an, era ketika mesin uap berkembang dan memicu Revolusi Industri pertama sekaligus era yang dijadikan rona awal (baseline) emisi gas rumah kaca umat manusia.

Menurut rumusannya yang paling umum, Basic Income (diterjemahkan sebagai Pendapatan Dasar) adalah pembayaran tunai secara berkala yang diberikan kepada seluruh anggota masyarakat tanpa syarat. Baik itu syarat kelayakan ataupun syarat melakukan pekerjaan tertentu dari penerima pembayaran dimaksud. Berdasarkan rumusan yang lebih teknis, ada aspek-aspek menentukan atau defining aspects dari Basic Income sehubungan dengan misalnya berapa besar pendapatan dasar; seperti apa bentuk, kepastian dan kekerapan dari pendapatan tersebut; serta cakupan penerima pendapatan dasar.

Dari waktu ke waktu, aspek-aspek definisi ini terus didaraskan, diperdebatkan, dan dipertajam (Standing, 2019; Van Parijs dan Vanderborght, 2017). The World Basic Income Congress ke-19 yang diselenggarakan Basic Income Earth Network di Hyderabad, India, tahun 2019 mendedikasikan salah satu sesi penting untuk perdebatan dan amandemen aspek-aspek definisi Basic Income tersebut. Dapat dilihat dari rumusan ini bahwa Basic Income berbeda secara mendasar dengan bantuan langsung tunai bersyarat atau  conditional cash transfers yang ditentukan oleh tingkat pendapatan atau status pekerjaan dari penerima.

Di Indonesia sendiri gagasan Basic Income berkembang dari tiga penjuru. Dari penjuru pertama, gagasan Basic Income terkait perlindungan sosial dalam hubungannya dengan kemiskinan, ketimpangan, dan kesejahteraan masyarakat (lihat misalnya M. Hoelman dan S. Bahagijo, 2014, “Arguing for Indonesian Basic Income”). Gagasan ini berkembang di lingkar organisasi masyarakat sipil sejak lebih dari satu dekade silam.

Dari penjuru kedua, gagasan Basic Income terkait perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan hubungannya dengan perubahan hakikat kerja dan kemungkinan terciptanya pengangguran akibat otomasi dan penggunaan kecerdasan buatan dalam produksi, konsumsi, dan pengorganisasian ekonomi (lihat B. Sudjatmiko, 2018, “Indonesia 4.0: Berguru Pada Alam yang Terkembang”). Gagasan ini berkembang di lingkar pegiat digital, teknologi dan informasi sekitar tiga tahun belakangan.

Dari penjuru ketiga, gagasan Basic Income terkait kecenderungan kegiatan sosial-ekonomi manusia dalam sistem bio-fisik tertentu, seperti iklim dan keanekaragaman hayati darat dan laut, yang berdampak pada menurunnya kemampuan sistem tersebut dalam menopang kehidupan manusia (S. Mumbunan, 2019, “Basic Income in the Anthropocene”). Gagasan ini baru berkembang sekitar dua tahun terakhir di lingkar kecil para peneliti keberlanjutan dan perubahan iklim.

Gagasan-gagasan ini muncul dengan rasionalisasi masing-masing. Mereka berkembang seturut perubahan masyarakat pada masanya yang berlangsung baik di Indonesia maupun di tingkat global. Kendati berangkat dari penjuru berbeda, gagasan-gagasan terkait Basic Income tersebut sesungguhnya bertautan – dan saling menentukan – satu dengan yang lain.

Berdasar latar ini, muncul kebutuhan untuk mengenal perkembangan Basic Income, menempatkan mereka dalam konteks, dan memahami Basic Income dalam keseluruhan dan kesatuan. Pada waktu bersamaan, ada kebutuhan penting untuk berbagi dan meluaskan pemahaman tentang konsep dan praktik Basic Income, termasuk kemungkinan dan keterbatasannya. Mengisi kebutuhan-kebutuhan ini barangkali berguna bagi kita untuk membaca berbagai letupan disruptif di ranah ekonomi, teknologi, ekologi, dan kemasyarakatan yang sedang berlangsung dalam laju dan skala bervariasi.

Lebih dari itu, pembacaan semacam itu diharapkan membantu kita mengantisipasi keadaan ketika disrupsi-disrupsi tersebut nanti menemukan momentum untuk membesar kemudian meledak – dengan dampak ledakan yang dramatis bagi manusia Indonesia dan bagi kemanusiaan.

–##–

* Sonny Mumbunan adalah Founder, Basic Income Lab RCCC Universitas Indonesia.