Oleh: Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan *

Ada tiga kata kunci global di beberapa tahun belakangan ini yaitu transisi energi (energy transition), mobilitas elektrik (e-mobility) dan digitalisasi (digitalization).

Transisi energi menuntut adanya peralihan penggunaan energi fosil secara gradual menuju energi terbarukan. Uni Eropa menargetkan porsi energi terbarukan sebesar 57 persen pada sektor kelistrikan hingga 2030, demikian juga China yang ingin mencapai 50 persen di tahun 2030.

Untuk mencapai itu China akan menambah kapasitas turbin anginnya sebesar 35 GW, dan 65 GW energi surya pertahunnya antara tahun 2020 sampai 2030. China juga berencana pada tahun 2023 penggunaan batubaranya mulai diturunkan secara signifikan, hingga pada tahun 2050 batubara hanya akan diberi jatah 11 persen dari total bauran energi.

Begitu juga yang terjadi di Australia, Amerika, Jepang, India dan diikuti oleh beberapa negara di ASEAN.

Sistem tenaga listrik konvensional yang telah berusia 124 tahun ini, sebenarnya sedang mengalami evolusi dari centralized system (sistem kelistrikan yang didominasi pembangkit skala besar dan bertumpu pada sistem transmisi tegangan tinggi) menjadi integrated system (sistem kelistrikan yang mengintegrasikan pembangkit terbarukan dan baterai ke dalam sistem), sehingga pola bisnisnya pun akan mengalami disrupsi dari monopoli menjadi kompetisi.

Demikian juga dengan kisah motor bakar/internal combustion engine yang menjadi komponen utama dari kendaraan bermotor sejak 133 tahun yang lalu, mulai memasuki masa senjanya dengan pesatnya perkembangan motor listrik.

Berbagai usaha peningkatan efisiensi terus dilakukan, sampai upaya penggunaan bahan bakar nabati untuk menekan emisi gas buangnya. Namun rata-rata efisiensi thermal motor bakar ada pada kisaran 35%, sedangkan efisiensi rata-rata motor listrik mencapai 90%, belum lagi biaya operasi dan pemeliharaan yang jauh lebih rendah.

Mobilitas elektrik (e-mobility) bukan berarti kendaraan listrik/e-vehicle saja, jika hanya mengganti kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik maka masalah kemacetan yang umumnya terjadi di perkotaan tidak akan pernah terselesaikan.

Diperlukan strategi baru dengan mengintegrasikan kendaraan listrik dengan sistem transportasi publik, dan fasilitas pengisian baterai yang memadahi.

‘Nyawa’ kendaraan listrik terletak pada baterai, no battery; no e-mobility, namun demikian kendaraan listrik tidak akan memberikan kontribusi besar pada perbaikan kualitas lingkungan jika proses charging baterai-nya masih menggunakan listrik dari energi fosil. Sehingga perkembangan e-mobility hanya akan menjadi tren positif jika ia menjadi bagian dari satu kesatuan sistem energi yang berbasis pada energi terbarukan.

Jadi e-mobility tidak dapat dipisahkan dengan energy transition, keduanya membentuk resultan yaitu megatren, sebuah arah pembangunan global yang tidak dapat dibendung.

Laju megatren semakin cepat dengan dukungan teknologi informasi dan digital. Digitalisasi saat ini bukan hanya sebuah proses transfer informasi analog ke bentuk digital,atau sekedar memasang alat smart meter dan mengendalikan pemakaian listrik dari jarak jauh.

Dalam konteks energy transition, peran digitalisasi adalah mempersiapkan sebuah tahapan baru bisnis energi, jual beli dan pertukaran kelebihan daya listrik dari rumah ke rumah (peer to peer energy trading), mengintegrasikan ratusan atau ribuan unit pembangkit energi terbarukan yang terpasang di rumah-rumah seperti panel surya, fuel cell, turbin angin skala kecil sampai microhidro, seakan membentuk satu pembangkit berskala besar (virtual power plant).

Dengan semakin murahnya teknologi energi terbarukan di pasaran dan kecanggihan teknologi digital seperti block chain, maka tidak lama lagi sektor energi listrik akan mirip seperti bisnis ritel via online dan ojek on-line di sektor transportasi. Dapat dikatakan bahwa megatren tidak akan sempurna tanpa adanya digitalisasi.

Pemerintah di berbagai negara harus segara memutuskan bagaimana menghadapi megatren ini, siapa yang mau belajar dan beradaptasi dengan cepat, membuat strategi yang tepat dan menyusun kebijakan yang akurat, maka merekalah yang akan mengambil banyak keuntungan.

Namun bila hanya berusaha bertahan dalam status quo dan zona nyamannya, lambat berfikir, bahkan berupaya menunda laju derasnya megatren ini, maka mereka akan semakin tertinggal.

Pemerintah Republik Indonesia dengan susunan kabinet yang baru, sudah saatnya berbenah, diawali dengan merapikan koordinasi antar kementerian, industri, pebisnis dan tentunya perguruan tinggi.

Akan sangat membanggakan apabila teknologi dalam sektor energi, transportasi dan informasi – digital ini adalah buah karya anak bangsa yang dibangun dari awal dan nantinya diproduksi secara massal.

Dengan cara demikianlah megatren ini akan menjadi peluang pertumbuhan ekonomi yang memberikan dampak sosial pada peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.

–##–

* Dr.-Ing Eko Adhi Setiawan adalah Direktur Pusat Riset Energi Terbarukan / Tropical Renewable Energy Center – TREC, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.