Great Pacific Garbage Patch - Lindsey HoshawMasih banyak dari kita yang belum mengenal bahaya plastik sehingga terus menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari.

Kantong plastik masih terus diproduksi untuk membungkus belanjaan yang sebenarnya bisa ditenteng sendiri.

Hal inilah yang mendorong ilmuwan dari State University of New York at Fredonia (SUNY Fredonia), Dr. Sherri Mason, untuk terus mengampanyekan pengurangan penggunaan plastik. Sebagai seorang profesor dan ahli bio kimia, ia melakukan intervensi langsung dan tidak basa-basi dalam mengurangi konsumsi plastik.

Ia meminta mahasiswanya dan komunitas untuk menghindari produk-produk yang mengandung atau dibungkus dengan plastik dan menuntut penghapusan kantong belanja dari plastik. Hal ini ia lakukan karena ia menyadari banyak solusi dari masalah plastik dan kantong plastik yang hanya menambah jumlah sampah di lingkungan sekitar.

Banyak tas-tas pakai ulang – yang dikemas dengan pesan-pesan lingkungan – namun diproduksi dengan bahan plastik atau bahan yang tidak bisa didaur ulang. Alhasil, ketika tas-tas tersebut rusak atau tak lagi bisa digunakan, tas tersebut hanya akan menambah volume sampah.

Menurut Dr. Mason, sebagaimana dikutip dalam berita SUNY Fredonia, sebanyak 50% sampah plastik tidak pernah sampai ke lokasi pembuangan sampah akhir. Sampah-sampah ini akhirnya menjadi bagian dari ekosistem kita, dikonsumsi oleh hewan, tanaman, tercampur ke dalam tanah, air dan akhirnya masuk dalam tubuh manusia melalui makanan.

Pada 11-13 Juli lalu Dr. Mason, memimpin survei polusi plastik pertama di Great Lakes. Great Lakes adalah sebutan bagi danau-danau besar yang ada di Amerika Utara. Survei ini ia lakukan bersama dengan 5 Gyres Institute, organisasi yang telah meneliti polusi di lima samudra utama dunia dan bertekad mengungkap krisis sampah ini agar mendapat perhatian masyarakat.

Danau-danau Great Lakes terletak di perbatasan Amerika Serikat dan Kanada dan terhubung langsung ke samudra Atlantik. Sebanyak 35 juta penduduk tinggal di sekitar ekosistem Great Lakes yang luasnya mencapai 243,46 km2. Menurut Dr. Mason, “Sebanyak 80% dari sampah plastik yang ditemukan di samudra berasal dari daratan.”

Dalam laporan Hijauku.com sebelumnya terungkap bahwa dunia saat ini terus mengalami krisis sampah dan berperang melawan sampah, termasuk sampah plastik. Sampah padat di perkotaan dunia akan terus meningkat, mencapai 70% pada 2025.

Laporan dari European Environment Agency menyebutkan, sampah-sampah ini terus mengotori lautan. Menurut EEA setidaknya 43% mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba dan semua spesies penyu mengonsumsi sampah ini. Sementara sekitar 36 % spesies burung laut dan berbagai spesies ikan juga menelan sampah lautan. Sampah plastik juga mencemari laut utara di Amerika Serikat.

Danau-danau Great Lakes semuanya bermuara di samudra sehingga diharapkan penelitian ini akan mengungkap krisis sampah plastik dan menemukan solusinya. Kita tunggu penelitian dan aksi menanggulangi sampah plastik di laut, danau, rawa dan paya di Indonesia.

Redaksi Hijauku.com