Signs at recycling centre - Alan WalkerAksi daur ulang sampah bisa menjadi tambang emas yang mampu menjadi solusi masalah ekonomi dan lingkungan. Hal ini terungkap dari laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) yang dirilis Senin (7/10).

Laporan yang disusun bersama dengan UN Institute for Training and Research (UNITAR) ini menekankan, tata kelola sampah bisa menciptakan peluang dengan bermacam manfaat. Diantaranya adalah membantu meningkatkan pendapatan dan kualitas kesehatan masyarakat.

Laporan berjudul “Guidelines for National Waste Management Strategies: Moving from Challenges to Opportunities” ini menyatakan, sebanyak 3,5 miliar penduduk dunia tidak memiliki sistem tata kelola sampah yang layak sehingga merugikan lingkungan, kesehatan dan ekonomi.

Menurut PBB, mendaur ulang sampah bisa menjadi tambang emas dalam arti kiasan maupun dalam arti yang sebenarnya. Mendaur ulang 1 ton sampah elektronik misalnya, menurut UNEP, bisa menghasilkan emas dengan berat setara dengan emas dari 5-15 ton bijih emas.

Tanpa upaya mendaur ulang sampah, cairan limbah bisa mencemari lingkungan, diserap oleh air maupun tanah. Praktik pembakaran sampah di ruang terbuka (open burning) menimbulkan polusi udara. Limbah-limbah organik yang membusuk menghasilkan 5% emisi gas rumah kaca. Dan kegagalan dalam mendaur ulang bahan baku bisa memicu kelangkaan sumber daya alam.

Di seluruh dunia, sepertiga pangan yang diproduksi manusia hilang dan atau terbuang dengan jumlah mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Secara umum, dunia membuang sekitar 1,3 miliar ton sampah padat per tahun. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 2,2 miliar ton pada 2025 dan mayoritas dihasilkan oleh penduduk di negara berkembang.

Menurut laporan ini, aksi daur ulang dan tata kelola sampah yang baik, bisa membawa manfaat ekonomi langsung yang nyata.

Pada tahun 2000, industri daur ulang di Uni Eropa berhasil menciptakan 229.200 lapangan kerja. Jumlah ini meningkat menjadi 512.340 lapangan kerja pada 2008 – naik rata-rata 10,5% per tahun. Proporsi mereka yang bekerja di industri pengelolaan limbah juga meningkat dari 400 orang per satu juta penduduk pada tahun 2000, menjadi lebih dari 600 orang per satu juta penduduk pada 2007 – naik sebesar 45%.

Industri sampah dunia – dari mulai pengumpulan hingga daur ulang – diperkirakan bernilai $410 miliar per tahun. Angka ini di luar sektor sampah informal yang terdapat di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Sehingga industri limbah berpotensi membantu mengatasi krisis iklim, krisis lingkungan, sekaligus membuka lapangan kerja.

Redaksi Hijauku.com