Pola makan penduduk dunia diam-diam berubah pada 2011. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, produksi ikan hasil budidaya melampaui produksi daging (beef). Kesenjangan ini semakin lebar dengan merebaknya budidaya ikan di darat atau aquaculture.

Produksi ikan pada 2012 juga mencapai rekor baru sebanyak 66 juta ton melampaui produksi daging yang 63 juta ton. Tahun 2013 menjadi catatan tersendiri karena tahun ini adalah tahun pertama dimana penduduk dunia mengonsumsi lebih banyak ikan hasil budidaya daripada ikan hasil tangkapan nelayan. Kabar ini terungkap dalam berita Earth Policy Institute yang dirilis baru baru ini.

Permintaan protein hewani dunia telah tumbuh lebih dari lima kali lipat dalam paruh kedua abad 20. Produksi daging per tahun meningkat dari 19 juta ton pada tahun 1950 menjadi lebih dari 50 juta ton pada akhir 1980-an.

Dalam periode yang sama, jumlah ikan tangkapan naik dari 17 juta ton menjadi 90 juta ton. Sementara sejak akhir 1980-an, pertumbuhan produksi daging melambat dan produksi ikan hasil tangkapan tetap.

Pesan yang ingin disampaikan dalam data-data ini adalah, dunia tak lagi mampu mengandalkan sumber pangan dari alam. Hampir seluruh padang rumput dunia telah terpakai dan bahkan melebihi kapasitas. Sebagian besar sumber perikanan dunia telah dieksploitasi dan bahkan ada yang melebihi batas.

Praktik eksploitasi peternakan ini menyebabkan hilangnya tanaman pelindung yang memicu penurunan kualitas tanah. Nelayan kini memerlukan upaya ekstra untuk mencari ikan. Mereka memerlukan lebih banyak bahan bakar untuk menjangkau laut yang lebih jauh dan dalam. Ikan yang mereka peroleh juga semakin kecil dan populasi beberapa jenis ikan populer terus menurun.

Saat ini, upaya menaikkan produksi daging dan ikan semakin sulit. Peternak lebih mengandalkan upaya penggemukan dan pada budi daya perikanan darat akibat keterbatasan sumber daya alam.

Untuk menggemukkan ternak, petani mencampur biji-bijian dan kedelai dalam makanan ternak. Guna menambah bobot ternak sebanyak 0,5 kg, diperlukan 3,175 kg biji-bijian.

Jumlah ini tiga kali lipat lebih tinggi jika dibanding pakan yang diperlukan untuk menggemukkan unggas. Ikan adalah komoditas yang paling efisien, bobot ikan akan bertambah 1 kg jika diberi pakan dengan jumlah yang sama. Sehingga saat harga biji-bijian dan kedelai naik, biaya perawatan ternak juga meningkat.

Hal inilah yang memicu peningkatan jumlah budi daya ikan, sementara budi daya daging turun. Di Amerika Serikat, sejak 2004, konsumsi daging sapi dan daging ayam turun lebih dari 13 % dan 5%. Sementara konsumsi ikan juga turun namun hanya 2%.

Di luar alasan ekonomi, penduduk di negara maju juga semakin sadar akan dampak konsumsi daging terhadap lingkungan dan kesehatan. Ikan dipandang sebagai alternatif pengganti daging yang lebih sehat (sambil menghindari ikan-ikan besar yang banyak tercemar polusi merkuri).

Konsumsi daging merah banyak dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan kanker usus. Produksi daging juga memiliki reputasi buruk, karena menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar dan merusak alam. Hal ini terutama banyak terjadi di wilayah Amazon, Brasil. Bahaya pupuk nitrogen yang digunakan di ladang jagung sebagai sumber pakan ternak, terus mencemari aliran air dan sungai, mengendap ke laut memicu merebaknya “zona-zona mati”. Zona mati adalah zona perairan yang – karena merebaknya pertumbuhan alga – memiliki kandungan oksigen yang rendah sehingga berbahaya bagi ikan.

Menurut EPI, populasi dunia terus bertumbuh mencapai 80 juta penduduk per tahun. Guna memenuhi kebutuhan pangan, dunia perlu memikirkan cara produksi ikan dan daging baru yang menghargai alam. Upaya yang tak kalah penting adalah mengurangi permintaan pangan dengan menekan pertumbuhan penduduk. Gerakan membatasi konsumsi daging, susu, telur dan ikan pada akhirnya akan menjadi kunci upaya mengurangi eksploitasi lingkungan. Sehingga semua bisa beraksi dan menjadi solusi bagi bumi.

Redaksi Hijauku.com