Hutan tropis memiliki kemungkinan lebih kecil mengalami kerusakan atau kehilangan biomassa – pohon dan materialnya – akibat kenaikan emisi gas rumah kaca sepanjang abad 21.

Kesimpulan baru ini terungkap dari hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience, Minggu (10/3).

Penelitian ini adalah penelitian paling komprehensif yang menguji dampak perubahan iklim terhadap hutan-hutan tropis, termasuk implikasinya terhadap evolusi di hutan hujan tropis serta peran mereka dalam sistem iklim global dan siklus penyimpanan karbon.

Penelitian ini sangat relevan mendukung program-program lingkungan dan konservasi hutan tropis. Misal pada program REDD+ dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Agar mampu menjalankan fungsinya secara efektif, program REDD+ harus memastikan stabilitas ekosistem kehutanan agar mampu terus mengikat atau menyerap karbon.

Tim penelitian yang dipimpin oleh Dr Chris Huntingford dari Centre for Ecology & Hydrology di Inggris ini beranggotakan ahli iklim dan ekologi dari Inggris, Amerika Serikat, Australia dan Brasil.

Menggunakan simulasi komputer dengan 22 model iklim, mereka menganalisis respon hutan-hutan tropis di wilayah Amerika, Afrika dan Asia terhadap perubahan iklim yang dipicu oleh kenaikan konsentrasi gas rumah kaca.

Hasilnya, mereka hanya menemukan skenario kerusakan hutan pada satu model perubahan iklim dan kerusakan itu hanya terjadi di wilayah Amerika. Tim peneliti menyatakan, proses fisiologis pada tanaman lebih menentukan (terjadinya kerusakan hutan) dibanding skenario kenaikan emisi dan perbedaan proyeksi perubahan iklim.

Walau penelitian ini menyimpulkan bahwa risiko kerusakan akibat perubahan iklim di hutan-hutan tropis sangat kecil, namun laporan ini tetap mencatat sisi-sisi lain yang memengaruhi ketidakpastian ekosistem dalam merespon perubahan iklim.

Menurut Dr Chris Huntingford, “Yang paling mengejutkan dalam analisis kami adalah, ketidakpastian ekologis di hutan tropis jauh lebih tinggi dibanding ketikdakpastian proyeksi perubahan iklim. Dari sinilah kami menyimpulkan – berdasarkan informasi perubahan iklim dan respon ekologis yang ada saat ini – hutan tropis di wilayah Amazonia, Amerika Tengah, Afrika dan Asia lebih tahan terhadap dampak perubahan iklim.”

Dr David Galbraith dari University of Leeds menyatakan, “Walau hutan-hutan tropis cukup kuat menghadapi perubahan iklim (peningkatan temperatur dan kekeringan), ada faktor-faktor lain yang tidak dihitung dalam penelitian ini yang bisa memicu kerusakan hutan tropis.”

Faktor-faktor itu adalah kebakaran dan deforestasi. Kedua faktor tersebut menurut David akan memengaruhi sistem penyimpanan karbon di hutan. Dampak dari kedua faktor ini sulit untuk disimulasikan (menggunakan model komputer). “Sehingga penting melengkapi model simulasi ini dengan pengamatan hutan di lapangan yang lebih komprehensif,” tuturnya.

Redaksi Hijauku.com