Suhu bumi saat ini lebih panas dibanding belasan ribu tahun yang lalu. Dalam 50 tahun terakhir, manusia menjadi pemicu utamanya. Kesimpulan ini terungkap dari hasil rekonstruksi temperatur oleh tim peneliti dari Oregon State University dan Harvard University yang dirilis Kamis (7/3).

Menggunakan data di 73 lokasi penelitian di seluruh dunia, tim peneliti menyimpulkan, suhu bumi saat ini lebih panas dibanding 70-80% periode selama 11.300 tahun terakhir atau sejak akhir Zaman Es.

Semua model iklim yang dievaluasi oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan, suhu bumi pada akhir abad ini, akan lebih tinggi dibanding suhu bumi 11.300 tahun yang lalu.

Shaun Marcott, ilmuwan OSU yang memimpin penelitian ini menyatakan, penelitian sebelumnya hanya meneliti anomali iklim dalam 2.000 tahun terakhir. Penelitian ini membawa perspektif yang lebih besar dengan merekonstruksi temperatur global dalam waktu yang lebih panjang.

“Jika hanya melihat dari satu sisi, sejarah suhu bumi bisa dipengaruhi oleh proses iklim regional seperti El Niño atau variasi monsun,” ujar Peter Clark, ahli iklim OSU yang turut menyusun penelitian ini. “Namun jika data dari berbagai lokasi di seluruh dunia digabungkan, kita akan bisa menghitung rata-rata anomali suhu regional dan melihat sejarah suhu bumi dengan lebih jelas.”

Menurut tim peneliti, sejarah mencatat, selama 5.000 tahun terakhir, suhu rata-rata bumi mengalami penurunan sekitar 1 derajat Celsius. Kondisi ini berhenti sekitar 100 tahun lalu. Sejak saat itu, suhu bumi kembali naik 1 derajat Celsius. Perubahan terbesar terjadi di belahan bumi bagian utara yang berpenduduk lebih banyak dan memiliki lahan yang lebih luas.

Model perubahan iklim meramalkan, suhu bumi akan kembali naik 1,1 hingga 6,4 derajat Celsius pada akhir abad ini (2100) tergantung pada kondisi konsentrasi emisi karbon. “Yang menjadi masalah,” ujar Clark, “kenaikan suhu bumi (pada akhir abad ini) akan lebih tinggi dari periode manapun dalam 11.300 tahun terakhir.”

Menurut Marcott, dulu, selain faktor emisi gas rumah kaca, ada faktor alam yang memengaruhi pemanasan global yaitu posisi bumi terhadap matahari. Posisi ini menentukan luas permukaan bumi yang menerima radiasi dari sinar matahari.

“Dahulu, saat posisi bumi bagian utara menerima lebih banyak radiasi matahari, suhu pada musim panas akan naik,” ujar Marcott. “Saat ini, posisi bumi telah berubah. Belahan bumi bagian utara tidak lagi menerima banyak sinar matahari, suhu saat musim panas seharusnya turun. Namun yang terjadi justru sebaliknya, suhu malah naik.”

Clark menyatakan, temuan ini sejalan dengan hasil penelitian-penelitian lain yang menyatakan bahwa kenaikan suhu bumi dalam 50 tahun terakhir lebih banyak dipicu oleh ulah manusia – tidak oleh faktor radiasi atau faktor-faktor alami yang lain.

Redaksi Hijauku.com