Australia keluarkan laporan kinerja penyerapan dan pelepasan emisi karbon dalam 20 tahun terakhir. Laporan ini terungkap dari hasil penelitian CSIRO yang dirilis Rabu (20/2).

Hasil penelitian ini menyebutkan, wilayah Australia menyerap sepertiga emisi karbon yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dalam 20 tahun terakhir. Namun laporan ini juga menyatakan, Australia mengekspor emisi – hasil pembakaran bahan bakar fosil di dalam negeri – 2,5 kali lipat lebih banyak pada periode 2009-2010.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan berupaya menghitung jumlah karbon yang hilang dan tersimpan dalam tanah maupun sistem penyerapan oleh tanaman. Penelitian yang dilakukan selama tiga tahun ini diwujudkan dalam laporan berjudul Australian Terrestrial Carbon Budget, yang diterbitkan bulan ini dalam jurnal Biogeosciences.

Tim peneliti juga memerhitungkan variabel iklim dan kenaikan CO2 dalam penelitian ini seperti dampak kebakaran, erosi dan deforestasi. Semua proses ini – bersama dengan penghitungan emisi yang berasal dari bahan bakar fosil – menurut tim peneliti penting dalam tata kelola emisi karbon di dalam negeri dan bagi standar pelaporan internasional.

Dr Vanessa Haverd yang memimpin penelitian ini menyatakan, karbon yang tersimpan dalam tanah saat tanaman tumbuh subur, akan hilang saat tanah tersebut mengalami kekeringan. “Memahami tren ini penting untuk membantu menghitung dampak kebakaran dalam sistem penyimpanan karbon di Australia,” tuturnya.

Menurut CSIRO setiap pohon di Negeri Kanguru, menyimpan rata-rata 2,2 miliar ton karbon per tahun selama periode penelitian dari 1990 hingga 2011. Rerumputan yang banyak terdapat di wilayah yang kering dan sabana, merupakan wahana penyimpan karbon terbanyak (56%) sementara sisanya (44%) diserap oleh tanaman kayu.

Saat musim tumbuh, yang biasanya terjadi saat iklim basah, biosfer di Australia “menghirup” karbon dalam jumlah besar dari atmosfer, melebihi emisi gas rumah kaca yang diproduksi manusia. Namun saat musim kering, biosfer ini kembali melepaskan karbon dengan jumlah yang hampir sama dengan karbon yang telah mereka serap.

Volume penyerapan (dan pelepasan) emisi karbon dalam periode 1990-2011 ini lebih tinggi dibanding periode-periode sebelumnya karena proses fertilisasi karbon dioksida. Proses fertilisasi karbon mengacu pada peningkatan produksi tanaman akibat kenaikan emisi. Penelitian ini adalah salah satu dari 14 pelaporan skala regional dan benua yang menjadi bagian dari Regional Carbon Cycle Assessment and Processes (RECCAP).

Redaksi Hijauku.com