Emisi CO2 dari sektor transportasi di Asia naik lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi dan akan berlipat ganda dalam 7 tahun mendatang.

Kesimpulan ini terungkap dari hasil penelitian terbaru Clean Air Asia yang dirilis Kamis (6/12). Emisi dari sektor kelistrikan juga tumbuh dengan kecepatan yang hampir sama dan diperkirakan akan berlipat ganda dalam 15 tahun.

Angkutan darat dan kelistrikan adalah penyumbang utama emisi CO2 di Asia, sebesar 5,26 miliar ton CO2 per tahun.

Produk domestik bruto Asia tumbuh 8% pada periode 2002-2010, namun emisi dari sektor transportasi tumbuh lebih tinggi, rata-rata 10,1% per tahun selama periode 2002-2010, dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari China sebesar 13,4% per tahun.

Peningkatan emisi di sektor transportasi ini sejalan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan di Asia yang mencapai 11,5% per tahun.

“Sektor transportasi di Asia harus berbenah untuk mencegah dampak berbahaya dari perubahan iklim,” ujar Sophie Punte, Direktur Eksekutif Clean Air Asia sebagaimana dikutip dari siaran per CAA. “Tersedia banyak contoh kebijakan yang terbukti mampu memangkas pertumbuhan emisi CO2 di sektor transportasi akibat pertumbuhan ekonomi. Namun upaya menerapkan kebijakan transportasi rendah karbon harus dilakukan secepat mungkin,” tambahnya lagi.

Singapura adalah salah satu negara yang berhasil mengurangi emisi dengan program efisiensi energi serta kebijakan yang membatasi kepemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi.

Penelitian yang didukung oleh Bank Dunia dan bank pembangunan yang lain ini mencakup 13 negara yang mewakili 95% populasi Asia dan 89% produk domestik bruto wilayah ini.

Menurut CAA, batu bara masih terus menjadi sumber utama energi listrik di Asia (70%) dan menyumbang hingga 91% emisi CO2 yang berasal dari industri listrik. Konsumsi listrik per penduduk di China naik 11% dan Vietnam naik 18%, lebih tinggi dibanding rata-rata kenaikan konsumsi listrik penduduk di negara Asia lain yang sebesar 6%.

Penggunaan bahan bakar alternatif di Asia berlipat ganda sejak tahun 2000 namun sumbangsihnya masih sangat kecil yaitu 19%.

Walau penggunaan listrik per penduduk di Asia masih rendah dibanding penduduk di negara-negara maju, 1501 kWh dibanding 8,483 kWh per kapita, namun tren penggunaan listrik terus bertumbuh sebesar rata-rata 6% per tahun sejak tahun 2000.

Sebagian besar negara di Asia telah memiliki target peralihan ke energi terbarukan. Menurut CAA jika target ini terpenuhi dan semakin ditingkatkan maka Asia berpeluang memerlambat penyebaran emisi CO2 dari industri listrik.

Saat ini sebanyak 460 juta kendaraan memenuhi jalan-jalan Asia. Dua per tiga dari kendaraan ini adalah kendaraan roda dua dan menyumbang 10% emisi CO2.

“Emisi terbesar berasal dari truk yang – walau populasinya hanya 9% dari jumlah kendaraan di Asia – menyumbang 54% emisi CO2 dari sistem transportasi darat,” ujar Punte. China adalah salah satu negara yang telah meluncurkan program transportasi barang yang ramah lingkungan dengan berupaya meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi dari truk.

Menurut CAA, upaya memerkirakan emisi partikulat yang menjadi ukuran kualitas udara di Asia akan semakin sulit karena kurangnya data dan informasi dari kota atau negara terkait. Hasil penelitian Clean Air Asia menemukan, 70% kota-kota Asia masih memiliki kualitas udara PM10 yang melampaui batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Redaksi Hijauku.com