Para ilmuwan menciptakan model komputer baru guna menguji dan menemukan material-material penyerap karbon yang lebih efisien. Hal ini terungkap dari siaran pers University of California, Berkeley yang dirilis Minggu (27/5).

Model komputer ini meneliti jutaan struktur kimia guna menemukan material apa yang bisa digunakan untuk meningkatkan efisiensi teknologi penangkapan karbon yang ada saat ini.

Model komputer ini juga bisa digunakan untuk meningkatkan kinerja pembangkit listrik mengurangi emisi gas rumah kaca. Kuncinya adalah mengetahui saat yang tepat untuk melakukan penangkapan karbon secara lebih efisien.

Teknologi yang ada sekarang memerlukan sepertiga energi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik – yang dikenal dengan nama “energi parasit” (parasitic energy) – untuk menangkap karbon, sehingga membebani biaya produksi dan harga energi listrik menjadi mahal.

Namun dengan menggunakan model komputer baru yang dikembangkan oleh University of California, Berkeley, para ahli kimia berhasil menemukan teknologi yang lebih murah untuk menangkap emisi karbon.

Menurut para peneliti, material-material padat seperti zeolit (zeolites) dan kerangka metal oksida (metal oxide frameworks,MOFs) lebih efisien dalam menangkap karbon dioksida sehingga karbon bisa disimpan ke dalam tanah.

“Kalkulasi kami menunjukkan, dengan memakai material tertentu, biaya penangkapan karbon menggunakan energi parasit (parasitic energy) bisa dikurangi hingga 30%. Industri dan akademisi harus memertimbangkan penggunaan bahan-bahan ini,” ujar Berend Smit, profesor kimia di University of California, Berkeley.

“Kami juga akan membangun model (komputer) pembangkit listrik untuk menguji material penangkap karbon dalam model pembangkit yang sesungguhnya,” ujar Smit.

Menurut Smit, ada jutaan material di dunia yang bisa dipakai untuk menangkap karbon. Namun untuk mengujinya secara langsung akan memakan waktu dan biaya.

Dengan menggunakan model komputer, peneliti bisa mengunggah (upload) stuktur kimia dari material yang tengah diuji ke situs milik Smit dan model komputer baru akan menghitung apakah material itu mampu menghemat energi dan menyerap karbon lebih banyak. “Sehingga para peneliti bisa menemukan teknologi dan material terbaik guna mengurangi emisi gas rumah kaca,” ujarnya.

Pembangkit listrik berbahan bakar fosil, terutama yang menggunakan batu bara, adalah sumber utama emisi CO2 yang menjadi penyebab pemanasan global dan perubahan iklim.

Perubahan iklim memicu bencana kemanusiaan di seluruh dunia karena berdampak pada ketersediaan pangan, pasokan air, kenaikan permukaan air laut dan memicu cuaca ekstrem.

Walaupun dunia saat ini tengah berlomba beralih ke energi baru dan terbarukan, namun menurut Smit, teknologi penangkapan karbon akan tetap menjadi satu-satunya cara untuk mengurangi emisi karbon dalam jumlah besar guna memerlambat perubahan iklim.

Teknologi dan material penangkap karbon baru ini sudah digunakan pada beberapa pembangkit listrik skala kecil. Diperlukan komitmen dari pembangkit listrik komersial untuk beralih ke teknologi baru ini sehingga mereka bisa mengurangi emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar.

Redaksi Hijauku.com