Permintaan air terus meningkat dalam dekade mendatang. Kondisi ini bisa mengancam kelestarian lingkungan dan memicu ketegangan antar negara.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru berjudul Green Growth, Resources and Resilience – Environmental Sustainability in Asia and the Pacific yang disusun oleh tiga lembaga yaitu Program Lingkungan PBB (UNEP), Bank Pembangunan Asia (ADB) dan Komisi Sosial Ekonomi untuk wilayah Asia Pasifik (ESCAP) – sebuah lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Berbeda dengan tren penggunaan bahan baku dan energi, wilayah Asia Pasifik adalah pengguna air terbesar di dunia.

Pada tahun 2000, negara-negara di wilayah Asia Pasifik menggunakan 2.383 miliar meter kubik (m3) air per tahun untuk pertanian, industri manufaktur serta keperluan rumah tangga. Angka ini mencapai 63% dari seluruh penggunaan air dunia yang mencapai 3.765 miliar m3.

Rata-rata penggunaan air penduduk di wilayah Asia Pasifik mencapai 644 m3 per tahun, di atas rata-rata pemakaian air penduduk dunia yang 619 m3 per tahun.

Walau secara umum penggunaan air penduduk Asia Pasifik lebih tinggi dibanding wilayah lain di dunia, tingkat penggunaan air negara-negara di wilayah ini beragam.

Negara-negara Asia Timur dan Asia Timur Laut menggunakan air sebesar 509 m3 per penduduk atau lebih sedikit dibanding rata-rata pemakaian air penduduk dunia. Penduduk di negara-negara Asia Tenggara memiliki tingkat penggunaan air yang hampir sama dengan rata-rata dunia yaitu sekitar 620 m3 per tahun.

Sementara penduduk di negara Asia Tengah dan Utara rata-rata menggunakan air 1.011 m3 per tahun – jumlah rata-rata pemakaian air terbesar di seluruh dunia.

Sektor pertanian adalah pengguna air terbesar, diikuti oleh industri dan rumah tangga. Untuk memroduksi 1 ton biji-bijian diperlukan 1.000 ton air.

Dengan semakin langkanya sumber air dan terus meningkatnya penggunaan air, langkah efisiensi dalam pemakaian air menjadi suatu keharusan.

Pada tahun 2000, biaya konsumsi air di negara-negara Asia Pasifik mencapai 0,27 m3/US$ 1 lebih murah dari biaya konsumsi air dunia yang mencapai 0,12 m3/US$ 1. Biaya penggunaan air di wilayah Asia Selatan dan Asia Barat Daya berkisar pada angka 1,1 m3/US$ 1 dan di wilayah Asia Timur dan Asia Timur Laut mencapai 0,12 m3/US$ 1.

Namun ternyata keunggulan kompetitif ini tidak dimanfaatkan untuk menghemat sumber daya air. Semakin murah biaya untuk mendapatkan air, semakin besar kemungkinan pengunaan air secara berlebihan.

Semua fakta di atas membuka peluang untuk memerbaiki sistem pengelolaan air di perkotaan, irigasi pertanian dan penerapan teknologi yang bisa meningkatkan efisiensi penggunaan air guna memaksimalkan manfaat air untuk pembangunan dan kemanusiaan.

Tanpa menerapkan strategi tersebut dunia akan menghadapi risiko konflik yang dipicu perebutan sumber daya yang semakin langka ini. Bencana kemanusiaan di wilayah Rwanda dan Sudan adalah sedikit contoh dari konflik yang dipicu oleh perebutan sumber daya air.

Kita bisa belajar cara mengelola air yang lebih baik dari berbagai negara seperti Singapura dan negara-negara di Timur Tengah. Mereka berhasil menghemat air dengan berbagai cara seperti mengolah air laut menjadi air tawar.

Yang dibutuhkan adalah kemauan yang kuat untuk menghemat sumber daya sekaligus melestarikannya untuk generasi mendatang.

Redaksi Hijauku.com