Laporan terkini dari Program Lingkungan PBB (UNEP) menyeru negara-negara Asia-Pasifik untuk melakukan revolusi hijau baru dengan cara lebih meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya agar bisa mencapai kemakmuran pada abad 21.

Menurut UNEP, negara-negara di wilayah Asia-Pasifik, saat ini mengonsumsi lebih dari separuh sumber daya dunia. Hal itu karena lebih dari separuh penduduk dunia tinggal di wilayah ini. Juga karena Asia Pasifik menyumbang 30% Produk Domestik Bruto Dunia.

Laporan yang diluncurkan Senin, 19 September, di Beijing oleh UNEP dan mitranya menyatakan, konsumsi sumber daya per kapita negara-negara Asia-Pasifik – yang mencakup penggunaan bahan-bahan bangunan dan bahan bakar minyak – harus dikurangi hingga 80% dari tingkat konsumsi saat ini jika ingin menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

Menurut laporan yang berjudul “Resource Efficiency-Economics and Outlook for Asia and the Pacific” ini, pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia-Pasifik membawa konsekuensi buruk bagi lingkungan meliputi kerusakan ekosistem, meningkatnya polusi udara dan emisi gas rumah kaca, hilangnya keanekaragaman hayati, dan semakin langkanya sumber daya.

Pada 2005 saja, bahan baku yang dikonsumsi oleh negara-negara Asia Pasifik – termasuk biomassa, bahan bakar fossil, bahan baku logam, kontsruksi dan industri – jumlahnya mencapai 32 milliar ton! Angka ini akan naik menjadi 80 milliar ton pada 2050 jika tidak ada perubahan perilaku konsumsi negara-negara di wilayah ini.

Menurut Direktur Eksekutif UNEP, Achim Steiner, pertumbuhan ekonomi yang luar biasa telah berhasil mengangkat setengah milliar penduduk Asia dan Pasifik dari jurang kemiskinan, namun pertumbuhan ekonomi itu juga membawa dampak yang besar bagi lingkungan sosial dan alam.

“Laporan terbaru ini menyoroti tidak hanya tantangan namun juga peluang bagi transisi ke ekonomi rendah karbon. Yaitu dengan cara menerapkan strategi pembangunan hijau – yang jauh lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya – sebagai pelengkap konsep pembangunan yang berkelanjutan,” ujar Steiner.

Laporan ini juga meminta semua negara untuk terus berusaha meningkatkan efisiensi melalui kebijakan publik yang cerdas, termasuk kebijakan fiskal seperti menerapkan pajak ekologi dan reformasi anggaran.

“Yang diperlukan adalah sebuah revolusi industri baru yang bisa menyediakan pangan, perumahan, air, energi dan sarana transportasi dengan hanya menggunakan 20% dari tingkat pemakaian sumber daya per kapita saat ini dan mengasilkan hanya 20% dari jumlah emisi yang ada saat ini,” demikian laporan dari UNEP.

Redaksi Hijauku.com